Bismillahirrohmanirrohiim…
BAB 1
Shahabat-shahabat
yang dirahmati oleh Alloh S.W.T, Alhamdulillah segala puji tersanjung
kehadirat Alloh S.W.T Sholawat dan salam selalu terlimpahkan kepada
sayyidina Muhammad S.A.W beserta keluarganya dan para shahabat, sejumlah
bilangan semua perkara yang diketahui Alloh. “Amma ba’du”.
Izinlah
kami menulis buletin ini dengan suatu pegangan kitab, yang insya Alloh
kami ambil dari kitab “UQUUDU LUJAIN FII BAYAANI HUQUUQUZZAUJAINI”
Kami sangat berharap memperoleh pertolongan Alloh, keikhlasan, diterima
dan ber manfa’at dalam segala hal yang berkaitan dengan risalah yang
kami tulis ini, semata karena kemuliaan sayyidina
Muhammad
S.A.W para istrinya anak cucunya dan golongan beliau. Risalah ini kami
hadiahkan kepada kedua orang tua kami, dengan harapan memperoleh
pengampuan dari Alloh, dan mudah-mudahan derajatnya ditinggikan.
Sesungguhnya Alloh S.W.T adalah dzat yang maha luas pengampunan Nya dan
dzat Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
PASAL I
HAK-HAK ISTRI TERHADAP SUAMI
Alloh S.W.T berfiman sebagaimana tersebut dalam Surat An-Nisaa:19 : “WA ‘AASYIRUUHUNNA BILMA’RUUFI” Artinya
: “ Dan pergauilah mereka (istri-istrimu) dengan baik “ Yang dimaksud
adalah pergaulan secara adil. Baik dalam pembagian giliran (kalau
kebetulan polygami), pemberian belanja dan berperangai baik dalam ucapan
dan tindakan.
Dalam
Surat Al-Baqoroh ayat 228 diterangkan: Artinya : “Dan para wanita
mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang
ma’ruf. Akan tetapi para suami mempunyai suatu tingkatan kelebihan
daripada istrinya. ”
Diriwayatkan
dari nabi S.A.W bahwa, saat beliau menunaikan haji wada’ belau
bersabda : Setelah beliau memuji Alloh S.W.T dan menyanjung-Nya serta
memberi petuah pada kaum muslimin yang hadir, Beliau melanjutkan
sabdanya: “Ingatlah, berikanlah wasiat kepada para wanita secara baik,
karena mereka hanyalah sebagai tawanan dihadapanmu. Sesungguhnya kalian
tidak memiliki apapun dari mereka kecuali kebaikan. kecuali jika
mereka itu (wanita) datang dengan membawa perbuatan buruk yang jelas.
Kalau wanita melakukan perbuatan tercela, maka berpisahlah sebatas
tempat tidur dan pukullah dengan pukulan yang tidak membahayakan. Kalau
istrimu mentaati maka kamu jangan mencari alasan lain untuk
mengusiknya. Ingatlah sesungguhnya kamu mempunyai hak atas istri
dirimu. Diantara hak kalian atas istri-istrimu adalah melarang istrimu
menggelar tikarmu terhadap orang yang tidak kamu sukai dan tidak
mengijinkan istri-istrimu memasukkan orang yang tidak kamu sukai.
Ingatlah, bahwa diantara hak-hak istrimu adalah memberi pakaian yang
baik kepadanya dan demikian pula dalam hal makanannya. ”
BAB 2
Rasululloh
S.A.W bersabda, Artinya: “ Hak istri atas suami adalah memberi makan
kepadanya jika ia (suami) makan, memberi pakaian kepadanya apabila ia
(suami) berpakaian, dan jangan menampar wajah, jangan menjelek-jelekkan
dan jangan membiarkan (memisahkannya) kecuali dalam hal tempat tidur.
(riwayat Thamrani dari Muawiyah bin Haidah).
Rosulloh
S.A.W bersabda: “AYYUMAA ROJULIN TAZAWWAJA IMROATAN ‘ALAA MAAQOLLA
MINALMAHRI AU KATSURO LAISYA FII NAFSIHI ANYUADDIYA HAQQOHAA KHODDA’AHAA
FAMAATA WALAM YUADDI ILAIHAA HAQQOHAA LAQIYALLOHA YAUMAL QIYAMATA
WAHUWA ZAARIN”
Artinya:
“Siapapun orang laki-laki yang menikahi seorang wanita dengan maskawin
yang hanya sedikit atau banyak, tetapi drinya berniat untuk tidak
memenuhi hak-hak istri (yakni bermaksud menipunya) lalu lelaki itu mati
hingga belum pernah memenuhi hak-hak istrinya, maka dihari kiamat kelak
ia akan menghadap Alloh S.W.T dengan menyandang predikat sebagai
pezina.”
Rosulloh
S.A.W bersabda : “INNA MIN AKMALIL MU’MINIINA IIMAANAN AHSANUHUM
KHULUQON WAALTHOFUHUM BIAHLIHII. ” Artinya: ”Sesunguhnya diantara
kesempurnaan keimanan orang mukmin adalah mereka yang lebih bersikap
kasih sayang (berlaku lemah lembut) terhadap istrinya. ” (riwayat
Turmudzi dan Hakim dari Aisyah).
BAB 3
Rasulullah
S.A.W bersabda: “KHOIRUKUM KHOIRUKUM LIAHLIHII WA ANA KHOIRUKUM LI
AHLII. ” Artinya : “ Sebaik-baik orang diantara kamu adalah mereka yang
paling bagus terhadap istri-istrinya. Dan aku adalah orang yang terbaik
diantaramu terhadap keluarga (istri-istri)ku. ” (Riwayat Ibnu Hibban).
Dalam
riwayat lainnya dikatakan : Artinya : “ Sebaik-baik orang diantara
kamu adalah mereka yang paling bagus terhadap istri-istrinya, dan aku
adalah orang yang lebih bagus diantaramu terhadap istri-istriku. ”
Rasulullah
S.A.W bersabda : “MAN SHOBARO’ALA SUUI KHULUQI IMROATIHII A’THOOHU
ALLAHU MINAL AJRI MITSLAMAA U’THIYA AYYUUBU ‘ALAIHISSALAAMU’ALA BALAA
IHI WA MAN SHOBAROT ‘ALASUI KHULUQI ZAUJIHAA A’THOOHALLAHU MINAL AJRI
MITSLATS.A.WAA BI AASIYATA IMROATA FIR’AUNA. ” Artinya : “ Barang siapa
bersabar atas keburukan kelakuan istrinya maka Allah S.W.T akan memberi
pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan Allah S.W.T
kepada Nabi Ayyub AS atas cobaan yang diterimanya. Dan barang siapa
bersabar atas keburukan kelakuan suaminya maka Allah S.W.T memberi
pahala kepadanya seperti pahala yang pernah diberikan kepada Asiyah
istri Fir’aun. ”
Perlu
diketahui bahwa cobaan yang diberikan Allah S.W.T kepada Nabi Ayyub AS
adalah terdiri dari empat macam cobaan. Meliputi cobaan atas
kebangkrutan (pailit) kekayaannya, kematian semua anak-anaknya,
kerusakan pada tubuhnya dan diasingkan oleh masyarakat kecuali hanya
istrinya saja yang setia menemani. Kehancuran harta kekayaan Nabi Ayyub
AS terdiri dari unta, sapi, kambing, gajah, khimar (keledai). Kekayaan
lain milik Beliau adalah 500 hektar tanah persawahan, semuanya digarap
oleh 500 orang, pada setiap orang mempunyai anak istri. Pengikut Beliau
terdiri dari 3 golongan semua telah beriman dan masih berusia muda.
Iblis
yang diberikan kekuasaan oleh Allah S.W.T dapat turun naik dari bumi
ke langit sewaktu dikehendaki, mempunyai maksud naik ke langit.
Tiba-tiba Iblis mendengar para malaikat membaca Sholawat atas Nabi
Ayyub AS. Saat itu juga timbullah rasa Hasud di dalam hatinya. Ia
berkata memohon kepada Allah S.W.T : “ WAHAI TUHAN, SEKARANG INI AKU
MEMANG TELAH MENYAKSIKAN SENDIRI HAMBA-MU AYYUB SANGAT RAJIN BERSYUKUR
SERAYA MEMUJI KEPADA-MU. TETAPI KALAU ENGKAU MEMBERI COBAAN KEPADAKU
TENTU DIA TIDAK AKAN BERSYUKUR DAN TIDAK PULA MENTAATINYA.
Allah
S.W.T berfirman kepada Iblis : “BAIK, SILAKAN KAMU MERANGKAP. SEKARANG
AKU BERI KEKUASAAN KEPADAMU UNTUK MENCOBA AYYUB AS MELALUI HARTA
KEKAYAANNYA. ” Iblis berangkat. Ia mengumpulkan semua anak buah terdiri
dari syaitan dan jin ia katakan kepada mereka: “ SEKARANG AKU TELAH
DIBERI WEWENANG UNTUK MENCOBA AYYUB AS MELALUI HARTANYA. ”
Lebih
lanjut iblis berkata lagi : “ IFRIT, SEKARANG KAU KUBERI TUGAS
MEMBAKAR TEMPAT PENGGEMBALAAN UNTA-UNTA MILIK AYYUB AS DAN
SEKALIGUSMEMBUNUH SEMUA UNTA-UNTA ITU. LAKSANAKAN !” Iblis datang
menjumpai Ayyub AS, saat mana ketika itu Beliau sedang melaksanakan
sholat. Iblis berkata kepadanya: “ TEMPAT PENGGEMBALAAN UNTA-UNTAMU
TERBAKAR, DAN SELURUH UNTA MILIKMU IKUT TERBAKAR PULA. ” Apa kata Nabi
Ayyub AS: “ ALKHAMDULILLAH. ALLAH S.W.T SENDIRI YANG MEMBERIKAN
KEKAYAAN ITU KEPADAKU DAN HANYA DIA SAJA YANG BERHAK MENGAMBIL KEMBALI.
”
Iblis
tidak berhenti sampai disitu. Ia meningkat lagi pada kekayaan yang
lain. Ia hancurkan semua kambing milik Nabi Ayyub As, berikut tempat
penggembalaannya. Ia datang ke Nabi Ayyub As seraya memberitahukan
peristiwa itu. “ANGIN PANAS TELAH MENGHANCURKAN KEBUNNYA, TIDAK ADA YAMG
TERSISA SEDIKITPUN, ” kata iblis sehabis merusak semua kebun milik
Nabi Ayyub AS. Apa kata Nabi Ayyub As. “ ALKHAMDULILLAH..” kemudian
Beliau memuji Allah S.W.T dan menyanjung-Nya. ”
BAB 4
Usaha
iblis belum berhenti sampai disitu. Ia kembali menghadap Allah S.W.T
seraya memohon agar diberi kekuasaan untuk mencoba Nabi Ayyub AS melalui
anak-anaknya. Allah berkata:”Silakan, pergilah. Aku memberi kekuasaan
penuh kepadamu untuk mencoba Ayyub melalui anak-anaknya. ” Iblis
berangkat. Yang dituju adalah gedung tempat anak-anak Nabi Ayyub As
berlindung di bawahnya. Gedung itu diguncang lalu hancur menindih habis
anak-anak Nabi Ayyub As, semuanya mati. Iblis lalu memberi Nabi Ayyub
As tentang bencana yang menimpa anak-anaknya.
Apa reaksi Beliau?. Nabi Ayyub AS malah beristighfar memohon ampun kepada Allah S.W.T.
Usaha
iblis tetap tidak menghasilkan apapun untuk merubah ketaatan Nabi
Ayyub As. Beliau tetap taat kepada Allah S.W.T dan bersyukur
kepada-Nya. Iblis kembali menghadap Allah S.W.T seraya memohon agar
diberi kekuasaan untuk menguji nya. Allah berkata kepadanya: “ SILAKAN.
AKU BERI KEKUASAAN KEPADAMU UNTUK MENGUJI MELALUI TUBUH LISAN DAN
AKALNYA. TETAPI BUKAN HATINYA. ”
Iblis
segera berangkat untuk menggoda Nabi Ayyub As. Sampai ketempat yang
dituju ternyata Beliau sedang bersujud. Iblis datang dari arah kepala
Beliau, lalu meniup kedua lubang hidungnya dengan sekali tiup. Seketika
itu badan Nabi Ayyub As serasa gatal-gatal. Makin lama terasa semakin
gatal. Nabi Ayyub As menggaruk-garuk bagianbagian tubuh yang gatal
dengan ujung-ujung jemarinya. Tetapi belum juga hilang gatal-gatal itu.
Nabi
Ayyub As mencoba menggaruk-garuknya dengan kain kasar. Belum juga
hilang gatal-gatal itu. Lalu menggunakan kerewang (pecahan genting) dan
batu. Beliau tidak henti-hentinya menggaruk badannya hingga melepuh,
sehingga bernanah dan berbau busuk. Masyarakat sekitarnya menganggap
berbahaya terhadap penyakit yang sedang dialami Nabi Ayyub As. Mereka
sepakat mengasingkan Beliau ke luar daerah. Beliau terusir ke tempat
yang kotor. Mereka membuatkan untuk Beliau sebuah gubuk yang hanya
ditemani istrinya yang bernama Rahmah.
Meskipun
demikian istri beliau, Rahmah, selalu setia melayaninya. Ia berbuat
baik sekali kepadanya. Ia perlakukan suaminya penuh kasih sayang.
Kebutuhan-kebutuhan makan dan minumnya selalu diperhatikan. Kaum Nabi
Ayyub As yang mendeportasi dirinya terdiri dari tiga golongan. Namun
begitu semuanya masih tetap dalam keimanan semula. Mereka tidak
meninggalkan agamanya.
Dalam
kisah lain diriwayatkan bahwa, ada seseorang bermaksud menghadap Umar
Bin Khattab hendak mengadukan perihal perangai buruk istrinya. Sampai
ke rumah yang dituju orang itu menanti Umar Ra di depan pintu. Saat itu
ia mendengar istri Umar mengomeli dirinya, sementara Umar sendiri
hanya berdiam diri saja tanpa bereaksi. Orang itu bermaksud balik
kembali sambil melangkahkan kaki seraya bergumam:”KALAU KEADAAN AMIRUL
MUKMININ SAJA BEGITU, BAGAIMANA HALNYA DENGAN DIRIKU. ”
Bersamaan
itu Umar keluar, ketika melihat orang itu hendak kembali. Umar
memanggilnya, katanya : ”ADA KEPERLUAN PENTING ?”. Ia menjawab : ”
AMIRUL MUKMININ, KEDATANGANKU INI SEBENARNYA HENDAK MENGADUKAN PERIHAL
ISTRIKU LANTARAN SUKA MEMARAHIKU. TETAPI BEGITU AKU MENDENGAR ISTRIMU
SENDIRI BERBUAT SERUPA, MAKA AKU BERMAKSUD KEMBALI. DALAM HATI AKU
BERKATA:KALAU KEDAAN AMIRUL MUKMININ SAJA DIPERLAKUKAN ISTRINYA SEPERTI
ITU, BAGAIMANA HALNYA DENGAN DIRIKU. ”
Umar
berkata kepadanya:”SAUDARA, SESUNGGUHNYA AKU RELA MENANGGUNG PERLAKUAN
SEPERTI ITU DARI ISTRIKU KARENA ADANYA BEBERAPA HAK YANG ADA PADANYA.
ISTRIKU BERTINDAK SEBAGAI JURU MASAK MAKANANKU. IA SELALU MEMBUATKAN
ROTI UNTUKKU. IA SELALU MENCUCIKAN PAKAIAN-PAKAIANKU. IA MENYUSUI
ANAK-ANAKKU, PADAHAL SEMUA ITU BUKAN KEWAJIBANNYA. AKU CUKUP TENTRAM
TIDAK MELAKUKAN PERKARA HARAM LANTARAN PELAYANAN ISTRIKU. KARENA ITU AKU
MENERIMANYA SEKALIPUN DIMARAHI. ”
Kata
orang itu : ”AMIRUL MUKMININ, DEMIKIAN PULAKAH TERHADAP ISTRIKU?”.
Jawab Umar : ”YA, TERIMALAH MARAHNYA. KARENA YANG DILAKUKAN ISTRIMU
TIDAK AKAN LAMA, HANYA SEBENTAR SAJA. ”
Tentang
kisah Asiyah lengkapnya begini; ketika Nabi Musa As mengalahkan para
tukang sihir Fir’aun, keimanan Asiyah semakin mantap. Keimananya kepada
Allah itu sendiri itu sebenarnya sudah lama tertanam didalam hatinya,
dan ia tidak menyatakan Fir’aun (suaminya) sebagai Tuhan. Begitu Fir’aun
semakin jelas mengetahui keimanan istrinya, maka ia menjatuhkan
hukuman kepadanya.
Kedua
tangan dan kakinya diikat. Asiyah ditelentangkan diatas tanah yang
panas, wajahnya dihadapkan kesinar matahari. Manakala para penyiksanya
kembali, malaikat menutup sinar matahari sehingga siksaan itu tidak
terasa. Belum cukup siksaan itu dilakukan Fir’aun, ia kembali
memerintahkan algojonya supaya menjatuhkan sebongkah batu besar kedada
Asiyah.
Manakala
Asiyah melihat batu besar itu hendak dijatuhkan padanya, beliau berdoa
kepada Allah S.W.T:”ROBBI IBNILII ‘INDAKA BAITAN FIL JANNAH. ” Artinya
:” Wahai Allah S.W.T, Tuhanku, bangunkanlah untukku disisi-Mu sebuah
gedung di Syurga, (Q. S. At Tahrim, ayat 11).
Segera
Allah memperlihatkan sebuah bangunan gedung di syurga yang terbuat
dari marmer berwarna mengkilat. Asiyah sangat bergembira, lalu ruhnya
keluar menyusul kemudian barulah sebongkah batu besar itu dijatuhkan
pada tubuhnya sehingga beliau tidak merasakan sakit, karena jasadnya
sudah tidak mempunyai nyawa.
Syeikh
habib Abdullah Al Haddad mengatakan, seseorang yang sempurna adalah
orang yang mempermudah hak-haknya, tetapi tidak mempermudah (meremehkan)
hak-hak Allah. Sebaliknya orang yang kurang sempurna adalah orang yang
diketahui berlaku sebaliknya.
BAB 5
K I S A H
Ada
seorang salih, ia mempunyai saudara (kawan) yang salih pula. Setiap
tahun ia berkunjung kepadanya. Suatu hari ia mengunjunginya lagi, sampai
ke rumah yang dituju pintunya masih tertutup. Ia ketuk pintu rumah
itu. Dari dalam terdengar suara wanita: “SIAPA ITU?” Orang yang salih
menjawab: “AKU, SAUDARA SUAMIMU. AKU DATANG UNTUK MENGUNJUNGINYA, HANYA
KARENA ALLAH SEMATA. ” “DIA SEDANG KELUAR MENCARI KAYU BAKAR, BALAS
ISTRI SAHABATNYA. MUDAH-MUDAHAN IA TIDAK KEMBALI. ”
Lanjutnya
sambil terus bergumam memaki-maki suaminya. Ketika mereka sedang
terlibat perbincangan, tiba-tiba orang yang salih itu datang sambil
menuntun seekor harimau yang sedang membawa seikat kayu bakar. Begitu
melihat saudaranya datang mengunjunginya, ia menghambur kepadanya seraya
bersalam. Kayu bakar itu lalu diturunkan dari punggung harimau
tersebut. Katanya kemudian: “SEKARANG PERGILAH KAMU, MUDAH-MUDAHAN ALLAH
MEMBERKAHIMU. ”
Orang
yang salih itu (yakni yang empunya rumah) lalu mempersilakan
saudaranya masuk. Sementara isterinya masih bergunam memaki-maki
dirinya. Namun sebegitu jauh ia hanya berdiam, tanpa menunjukkan reaksi
kebencian. Setelah terlibat perbincangan beberapa saat lamanya,
hidangan keluar disuguhkan. Dilanjutkan berbincang-bincang hingga
beberapa saat.Setelah itu saudaranya berpamitan dengan menyimpan
kekaguman yang sangat berkesan. Ia sangat kagum sebab saudaranya
sanggup menekan kesabarannya menghadap isteri yang begitu cerewet dan
berlidah panjang. Tahun berikutnya ia berkunjung lagi. Sampai di depan
pintu ia mencoba mengetuknya. Isterinya keluar dan menyapa: “TUAN
SIAPA?” “AKU ADALAH SAUDARA SUAMIMU, BALASNYA. KEDATANGANKU INI SEMATA
UNTUK MENGUNJUNGINYA. ”
“OH,
SELAMAT DATANG, TUAN, ” kata isteri saudaranya seraya mempersilahkan
masuk penuh keramahan. Tidak begitu lama saudara salih yang ditunggunya
tiba juga sambil memanggul seikat kayu bakar. Mereka segera terlibat
perbincangan sambil menikmati hidangan yang disuguhkan. Setelah semuanya
dirasa cukup, dan ketika ia hendak kembali, ia sempatkan bertanya
tentang beberapa hal. Bagaimana dahulu ia dapat menundukkan seekor
harimau dan mau diperintah membawakan kayu bakar. Sedang sekarang ini ia
hanya datang sendirian sambil memanggul kayu bakar.
“KENAPA
BISA BEGITU?” tanya saudaranya. Saudaranya menjawab:”KETAHUILAH
SAUDARAKU, ISTERIKU YANG DAHULU BERLIDAH PANJANG ITU SUDAH MENINGGAL.
SEDAPAT MUNGKIN AKU BERUSAHA BERSABAR ATAS PERANGAI BURUKNYA. SEHINGGA
ALLAH MEMBERI KEMUDAHAN DIRIKU UNTUK MENUNDUKKAN SEEKOR HARIMAU,
SEBAGAIMANA PERNAH KAU LIHAT SENDIRI SAMBIL MEMBAWA KAYU BAKAR ITU.
SEMUANYA TERJADI LANTARAN KESABARANKU PADANYA. LALU AKU MENIKAH LAGI
DENGAN PEREMPUAN YANG SHALIHAH INI. AKU SANGAT GEMBIRA MENDAPATKANNYA.
MAKA HARIMAU ITUPUN DIJADIKAN JAUH DARIKU, KARENA ITU AKU MEMANGGUL
SENDIRI KAYU BAKAR ITU, LANTARAN KEGEMBIRAANKU TERHADAP ISTERIKU YANG
SHALIIHAH INI. ”
PERHATIAN
Seorang
suami diperbolehkan memukul isterinya jika tidak mengindahkan
perintahnya berhias, padahal ia menghendaki. Atau lantaran menolak
diajak tidur bersama. Diperbolehkan pula seorang suami memukul isterinya
lantaran keluar rumah tanpa memperoleh izinnya. Atau karena isterinya
itu memukul anak kecil yang sedang rewel. Atau karena mencaci maki
orang lain, atau karena menyobek pakaian suaminya, menjambak
jenggotnya, atau berkata kepada suaminya: “HAI KAMBING, HAI KELEDAI HAI
ORANG TOLOL, DLL. ” sekalipun pencaciannya itu didahului oleh sikap
suami yang telah mencacinya.
Demikian
pula seorang suami diperbolehkan memukul isterinya lantaran isterinya
sengaja memamerkan wajahnya kepada lelaki lain. Atau karena asyik
berbincang-bincang dengan lelaki lain. Atau sekalipun ia ikut
mendengarkan pembicaraan suaminya bersama lelaki lain, dengan maksud
dapat mencuri pendengaran dari suara lelaki itu. Atau karena memberikan
sesuatu dari rumah suaminya berupa barang yang tidak biasanya diberikan
kepada orang lain. Atau karena menolak menjalin kekeluargaan dengan
saudara suaminya.
Begitu
pula suami dibenarkan memukul isterinya karena meninggalkan shalat,
setelah terlebih dulu diperintah tetapi menolak mengerjakannya. Pendapat
inilah yang lebih kuat.
WASIAT DAN PENGAJARAN SUAMI
Ketahuilah
bahwa, setiap suami hendaknya pandai-pandai memberi pengajaran atau
wasiat-wasiat kebajikan kepada isterinya. Rasulullah S.A.W mengingatkan :
“ROHIMALLAHU
ROJULAN QOOLA YAA AHLAAHU SHOLAA TAKUM SHIYAA MAKUM DZAKAA TAKUM
MISKIINAKUM YATIIMAKUM JIIROONAKUM LA’ALLAKUM MA’AHUM FIL JANNATI. ”
Artinya: “Mudahmudahan Allah merahmati seorang suami yang mengingatkan
isterinya, ‘HAI ISTRIKU, JAGALAH SHALATMU, PUASAMU, ZAKATMU. KASIHANILAH
ORANG-ORANG MISKIN DI ANTARAMU, PARA TETANGGAMU. MUDAHMUDAHAN ALLAH
MENGUMPULKAN KAMU BERSAMA MEREKA DI SURGA’. ”
Hendaknya
seorang suami selalu memperhatikan nafkahnya sesuai dengan
kesanggupannya. Hendaknya suami selalu bersabar jika menerima cercaan
isterinya, atau perlakuan-perlakuan tidak baik lainnya. Hendaknya suami
mengasihani isterinya, yaitu dengan bentuk memberi pendidikan secara
baik, kendati ia seorang terpelajar. Sebab kaum wanita bagaimanapun
diciptakan dalam keadaan serba kurang akal dan tipis beragama (kecuali
hanya sedikit saja yang mempunyai akal panjang dan beragama kuat).
Tersebut dalam hadits: “LAU LAA ANNALLAHA SATAROL MAR ATA BIL HAYAA
ILAKAA NATS LAA TUSAA WII KAFFAN MIN TUROOBIN. ” Artinya: “Kalaulah
bukan karena Allah membuatkan penutup rasa malu bagi kaum wanita,
niscaya harganya tidka dapat menyamai segenggam debu. (alhadits).
Hendaknya
seorang suami selalu menuntun isterinya pada jalan-jalan yang baik.
Memberi pendidikan kepadanya berupa pengetahuan agama (Islam), meliputi
hukum-hukum bersuci (Thaharah) dari hadats besar. Misalnya tentang haid
dan nifas. Seorang isteri harus diberi pengetahuan tentang persoalan
yang sangat penting itu. Sebab bagaimanapun masalah itu berhubungan erat
dengan waktu-waktu shalat.
Demikian
pula memberikan pengajaran terhadap masalah ibadah. Meliputi ibadan
fardhu (wajib) dan sunnahnya. Pengetahuan tentang shalat, zakat, puasa
dan haji.
Jika
seorang suami telah memberi pendidikan tentang persoalan pokok
tersebut, maka isteri tidak dibenarkan keluar rumah untuk bertanya
kepada ulama. Tetapi kalau pengetahuan yang dimiliki suami tidak
memadai, sebagai gantinya maka ia sendiri yang harus siap untuk selalu
bertanya kepada ulama (orang yang mengerti ilmu agama). Artinya, isteri
tetap tidak diperkenankan keluar rumah. Namun, kalau suami tidak
mempunyai untuk bertanya, maka isteri dibenarkan keluar rumah untuk
bertanya tentang persoalan agama yang dibutuhkan. Hal itu malah menjadi
kewajibannya, dan bahkan kalau suaminya melarang keluar berarti telah
melakukan kamaksiatan (dosa). Tetapi isteri harus meminta izinnya lebih
dulu jika sewaktu-waktu hendak belajar mengenai ilmu-ilmu tersebut.
Isteri harus memperoleh keridhaan suaminya.
BAB 6
KEHARUSAN MEMELIHARA DIRI DAN KELUARGA
Tersebut dalam firman Alloh Surat Al Tahrim ayat 6: “YAA
AYYUHAL LADZI AAMANUU QUUU ANFUSAKUM WA AHLIIKUM NAAROON” Artinya: Hai
orang-orang yg beriman, peliharalah dirimu keluargamu dari api neraka.
Dalam
menafsirkan ayat tersebut, Ibnu Abas Ra mengatakan, ”Berikanlah
pengertian kepada mereka dan didiklah mereka “ yakni tentang syariah
Islam dan akhlak-akhlak yg baik. Tersebut dalam riwayat dijelaskan :
“INNA ASYADDANNAASI ‘ADZAABAYYAU MAL QIYAA MATI MAN JAHHALA AHLAHU”
Artinya : Sesungguhnya di antara manusia yang paling keras menerima
siksaan kelak di hari kiamat adalah orang yang memperbodoh keluarganya,
(yang sengaja membentuk keluarganya menjadi bodoh). (al-hadits)
Diriwayatkan
dari Abdullah bin Umar Ra dari Nabi S.A.W, bahwa beliau bersabda yang
artinya : “Setiap kamu sekalian adalah penggembala dan kelak akan
ditanya tentang penggembalaannya. Imam adalah penggembala dan kelak
dimintai tanggung jawab atas penggembalaan (kepemimpinan)nya. Suami
adalah pemimpin keluarganya dan kelak dimintai pertanggung jawaban
tentang kepemimpinan (rumah tangganya). Isteri adalah pengatur di rumah
suaminya, kelak akan diminta pertanggungjawaban tentang pengaturannya
(di rumah suaminya). Pembantu adalah pelaksana dalam menjalankan
pertanggungjawaban tentang pelaksanaannya. Anak lelaki adalah penjaga
harta kekayaan orangtuanya dan kelak akan diminta pertanggungjawaban
tentang penjagaannya. Jadi kalian semua adalah penggembala dan kelak
kalian akan diminta pertanggungjawaban atas penggembalaannya. (riwayat
Ahmad, Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).
Rasulullah
S.A.W bersabda yang artinya:”Takutlah kepada Allah, takutlah kepada
Allah dalam urusan wanita, karena mereka adalah merupakan amanat bagimu.
Barangsiapa tidak menyuruh isterinya menunaikan shalat dan tidak
mengajarinya, berarti telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya.
(al-hadits).
Di
antara akhir kata-kata yang dipesankan oleh Rasulullah S.A.W yang
diulang tiga kali hingga lisannya terasa sulit berkata dan sangat berat,
adalah: “Peliharalah shalat, peliharalah shalat (mu) dan apa saja yang
ada pada kekuasaanmu. Janganlah kamu membebani mereka dengan perkara
yang mereka tidak mampu menanggungnya. Takutlah kepada Allah, takutlah
kepada Allah dalam urusan isteri-isterimu, sesungguhnya mereka adalah
tawanan yang ada dalam kekuasaanmu. Kamu mengambil mereka dengan amanat
Allah, dan kamu mengambil kehalalan farji mereka dengan firmanfirman
Allah. (al-hadits).
Firman
Allah dalam surat Thaaha ayat 132 :WA MUR AHLAKA BISHOLATI” yang
artinya: “dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat.
Diriwayatkan dari Nabi S.A.W bahwa beliau bersabda, yang artinya: “tidak
ada dosa yang lebih besar yang kelak di hari kiamat dibawa seseorang
menghadap kepada Allah, daripada orang yang membuat keluarganya menjadi
bodoh. ”
Rasulullah
S.A.W bersabda, yang artinya: “Pertama kalli perkara yang
dipertanggungjawabkan kepada seseorang di hari kiamat adalah keluarganya
(yakni isteri) dan anak-anaknya. Mereka berkata, wahai Tuhan kami,
ambillah hak-hak kami (tanggung jawab) kami dari orang ini, karena
sesungguhnya dia tidak mengajarkan kepada kami tentang urusan agama
kami. Ia memberi makan kepada kami berupa makanan dari hasil yang haram,
dan kami tidak mengetahui. Maka orang itu dihantam (disiksa) lantaran
mencari barang yang haram, sehingga terkelupas dagingnya, kemudian
dibawa ke neraka. (alhadits).
BAB 7
PASAL 2
HAK-HAK SUAMI ATAS ISTERI
Firman
Allah dalam surat An-Nisaa’ Ayat 34 :Artinya :”Kaum laki-laki itu
adalah pemimpin kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian
mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka
telah menafkahkan sebagian dari harta meraka. Sebab itu maka wanita
yang sholihah adalah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika
suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara(mereka). Wanita
yang kamu khawatirkan nusyuznya(kemaluannya), maka nasihatilah mereka
dan pisahkanlah mereka ditempat tidur dan pukullah mereka. Kemudian
jika mereka mentaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk
menyusahkannya. ”
Rasululloh
S.A.W bersabda: Artinya :” Sebaik-baik Wanita (Isteri) adalah seorang
wanita yang apabila kamu pandang menyenangkan dirimu, kalau kamu
perintah mentaatimu, kalau kamu pergi ia menjaga harta dan dirimu.
Rasululloh
S.A.W bersabda : “Barang siapa bersabar terhadap perangai isterinya,
maka Allah akan memberikan pahala kepadanya seperti pahala yang
diberikan padaa Nabi Ayyub As. Barang siapa bersabar (yakni Isteri)
terhadap perangai suaminya, maka Allah akan memberikan pahala seperti
pahala yang diberikan Allah pada orang yang gugur dalam membela agama
Allah. Barang siapa (isteri) menganiaya suaminya dan memberi beban
pekerjaan yang tidak pantas menjadi bebannya (yakni suami) dan
menyakitkan hatinya, maka para Malaikat juru pemberi Rahmat (Malaikat
Rahmat) dan Malaikat juru siksa (malaikat azab) melaknatinya (yakni
isteri). Barang siapa (isteri) yang bersabar terhadap perbuatan suaminya
yang menyakitkan, maka Allah akan memberinya seperti pahala yang
diberikan Allah pada Asiyah dan Maryam Binti Imran. (Al-hadts).
BAB 8
Rasululloh
S.A.W bersabda : “AYYUMAA IMROATIN MAA TAT WAZAUJUHAA ‘ANHAA ROODHIN
DAKHOLATILJANNATA” Artinya: ”Siapa saja kaum wanita (istri) yang mati
sedangkan suaminya meridhoinya, maka kelak ia masuk surga. ”
(Diriwayatkan Tirmizdi Ibnu Majah, Hakim dari Ummu Salamah).
Rasululloh
S.A.W bersabda : “IDZAA SHOLLATILMARATIU KHOMSAHAA WASHOOMAT SYAHROHAA
WAFIDHOT FARJAHAA WA ATHOO’AT ZAUJAHAA QIILA LAHAA UDHULULJANNATA MIN
AYYIABWAABILJANNATISYI, TI. ” Artinya: “Apabila seorang Isteri
menunaikan shalat lima waktunya, berpuasa dibulannya, pandai-pandai
memelihara kemaluannya dan mentaati suaminya, kelak akan dikatakan
kepadanya:”Masuklah ke surga dari pintu mana saja yang kamu kehendaki.
”(Diriwayatkan oleh Ahma)
Tersebut
dalam suatu riwayat ada seorang perempuan datang menghadap Nabi S.A.W
seraya berkata : “Wahai Rasululloh, aku ini utusan dari kaum wanita
yang diminta menghadapmu. Yaitu menanyakan masalah jihad yang hanya
diwajibkan Alloh kepada kaum laki-laki. Kalau merreka terluka
mendapatkan pahala. Kalau mereka terbunuh, mereka bahkan sebagi
orang-orang yang hidup disisi Tuhannya seraya memperoleh rizki.
sedangkan kami dari golongan Wanita ini selalu setia mengikuti dan
membantu mereka menyediakan kebutuhan-kebutuhan yang diperlukan. Namun
demikian kenapa kami tidak memperoleh pahala berjihad seperti yang
diberikan pada mereka Rosulloh S.A.W Bersabda:”SAMPAIKAN KEPADA SIAPA
SAJA KAUM WANITA YANG KAMU JUMPAI BAHWA, MENTATI SUAMI DENGAN MENGAKUI
HA-HAKNYA SESENGGUHNYA TELAH MENYAMAI DENGAN PAHALA BERJIHAD. TETAPI
SEDIKIT SEKALI DIANTARAMU MELAKSANAKAN. ” (Diriwayatkan oleh Al Bazzar
da Thabrani).
BAB 9
Dalam
Firman Allah S.W.T Surat An-Nisa’ ayat ke 32 :“LIRRIJAALI NASHIIBUN
MIMMAA IHTASABUU WALINNISAAI NASHIIBUN MIMMAA IKTASABNA”Artinya:”Bagi
orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi
mereka wanita ada bagian dari apa yang mereka usahakan. ”
Yang
dimaksud adalah pahala yang diberikan Allah S.W.T kepada kaum lelaki
karena menunaikan jihad. Sedangkan pahala yang diberikan Allah S.W.T
kepada kaum wanita adalah lantaran mereka memelihara kemaluannya dan
mentaati Allah S.W.T serta mentaati suaminya. Pahala kaum lelaki dan
wanita di akhirat kelak kedudukannya sama. Yang demikian karena,
perbuatan baik itu dilipatgandakan pahalanya hingga sepuluh kali lipat.
Baik hal itu berlaku bagi kaum lelaki maupun wanita. keutamaan kaum
lelaki atas kaum wanita hanyalah sebatas masa di dunia. Demikian menurut
penafsiran Asy Syarbini didalam Tafsirnya.
Iman
Ali RA mengatakan:”Seburuk-buruk sifat kaum lelaki namun sebaik-baik
sifat sifat kaum wanita , penakut. Sebab kaum wanita (Isteri) itu bakhil
maka akan dapat memelihara hartanya dsn hartanya dan suami saja, kalau
isteri (wanita) itu merasa besar maka perasaan besarnya itu akan
mencegah diri nya banyak bicara kepada setiap orang dengan gaya bicara
yang lunak, yang memungkinkan mengundang perhatian. kalau wanita itu
penakut dari segala sesuatu maka ia tidak akan keluar rumah dan merasa
takut ketempat-tempat yang dapat mengundang dugaan lantaran takut kepada
Suaminya. Nabi Dawud As mengatakan :”Isteri yang berakhlak buruk bagi
seorang suami, kalau dimisalkan adalah bagaikan orangtua renta yang
memikul beban berat. Sedang isteri yang sholihah bagi seorang suami
bagaikan mahkota yang dilapisi emas. Manakala suami memandangnya,maka
membuat ketenangan. ”
KEDUDUKAN KAUM ISTERI
Hendaknya
suami memberi pengertian kepada isterinya bahwa, sesungguhnya
keberadaan isterinya tidak lebih bagaikan hamba sahaya (budak) dimata
tuannya. Atau bagaikan tawanan yang tidak berdaya karena itu isteri
tidak berhak mempergunakan harta-harta suaminya kecuali memperoleh
izinnya.
Bahkan
menurut pendapat mayoritas Ulama bahwa, seorang isteri tidak boleh
mempergunakan hartanya juga sekalipun harta itu mutlak miliknya sendiri,
kecuali telah mendapat restu suami. Sebab kedudukan Isteri itu seperti
orang yang menanggung hutang banyak yang harus membatasi penggunaan
hartanya.
Selain
itu telah kewajiban bagi kaum isteri supaya memiliki sikap pemalu
terhadap suaminya sepanjang waktu. Tidak banyak membantah perkataan
suami. Merendahkan pandangannya di hadapan suami. Mentaati
perintahperintahnya, dan siap mendengarkan kata-kata yang diucapkan
suaminya. Menyongsong kedatangan suami dan mengantarkannya ketika hendak
keluar rumah. Menampakkan rasa cinta dan bergembira dihadapannya.
Menyerahkan dirinya secara penuh di sisi suaminya ketika di tempat
tidur. Termasuk perkara penting yang perlu mendapat perhatian kaum
isteri adalah, hendaknya selalu memperhatikan kebersihan mulutnya, baik
dengan cara di gosok dalam berbagai waktu, menggunakan misik atau
wewangian lain. Membersihkan pakaian, selalu bersolek di hadapan suami
sebaliknya tidak berhias
jika suami sedang pergi.
Al
Ashmu’i menceritakan pengalamannya ketika berjalan-jalan di suatu
dusun. Katanya, suatu hari aku melihat seorang wanita di suatu desa. Ia
berpakaian merah menyala, semua semua kukunya dikenakan pacar dan
tangannya menggenggam tasbih. Al Ashmu’i bergumam : Alangkah indahnya
wanita itu, hampir tidak ada ke keindahan yang melebihinya.
Setelah
mengetahui sapaanku, ia bersair : Demi Allah sesungguhnya aku
mempunyai seorang kawan yang akrab yang tidak dapat kutinggalkan
sewaktu-waktu aku bercengkerama bersama dirimu Al Ashmu’i melanjutkan,
sekarang aku tahu bahwa, wanita itu ternyata seorang isteri yang
solehah. Ia mempunyai suami dimana ia selalu berhias untuk menyenangkan
dirinya. Selanjutnya, seorang isteri hendaknya menjauhkan diri dari
sikap berkhianat terhadap suami. Baik berkhianat ketika ditinggal
suami, saat di tempat tidur atau berkhianat pada hartanya.
“LAA
YAHILLU LAHAA AN TUTH’IMA MIN BAITIHI ILLAA BIIDZNIHI ILLAA ARROTHBA
MINATHTHO’AAMI ALLADZII YAKHOOPU FASAADUHU FAIN ATH’AMAT ‘AN RIDHOOHU
KAANA LAHAA MITSLA AJRIHI WAIN ATH’AMAT BIGHOIRI IDZNIHI KAANA LAHULAJRU
WA’ALAIHALWIZRU. ” (AL-HADITS) Artinya:”Tidak dihalalkan bagi seorang
isteri memberikan makanan dari rumah suaminya kecuali mendapat izinnya.
Kecuali berupa makanan basah (yang kadar airnya tinggi)yang
dikhawatirkan busuk. Kalau seorang isteri memberi makanan tanpa
memperoleh izin suaminya, maka suaminya yang mendapat pahala dan ia
sendiri mendapat dosa. (al-hadits).
Seorang
isteri juga harus menghormati keluarga suaminya, kerabatkerabatnya
kendati hanya dengan ucapan. Hendaknya isteri dapat menempatkan dirinya
dalam memandang perkara yang sedikit yang dimiliki suami sebagai
perkara yang banyak. Tidak menolak jika diajak tidur bersama, kendati
saat itu ia sedang berkendaraan.
BAB 10
Ibnu
Abas mengatakan, Aku mendengar Rasululloh S.A.W bersabda :“LAU ANNA
IMROATAN JA’ALAT LAILAHAA QIIYAAMAN WANAHAAROHAA SHIYAAMAN WA’AAHAA
ZAUJUHAA ILAA FIROOSYIHI WA TAAKHKHOROT ‘ANHU SAA’ATAN WAAHIDATAN JAAAT
YAUMALQIAMATI TUSHABU BISSALAASILI WALAGHLAALI MA’ASYSYAYAATHIINI ILAA
ASFALI SAAFILIINA” (AL-HADITS)
Seandainya
seorang istri menjadikan seluruh waktu malamnya untuk beribadah dan
siangnya selalu berpuasa, sementara suaminya mengajak dia tidur bersama
(yakni bersetubuh) tetapi ia terlambat sebentar saja memenuhi panggilan
(ajakannya), maka kelak di hari kiamat ia datang dalam keadaan
terantai dan terbelenggu, serta ia dikumpulkan bersama syetan ditempat
neraka yang paling bawah. (al-hadist)
Perlu
sekali diketahui, hendaknya seseorang apabila hendak bersetubuh
menjauhkan diri dari pandangan orang lain. karena termasuk diharamkan
bersetubuh dilihat orang lain. termasuk dalam kategori ini adalah
persetubuhan yang dilakukan ditempat terbuka, tidak tertutup dari
pandangan orang lain.
Disunnahkan
bagi orang yang hendak bersetubuh memulai dengan membaca Bismillahir
rahmaanir rahiim, dilanjutkan membaca surat AL Ikhlas, kemudian
bertakbir dan bertahlil (yakni membaca ALLOHU Akbar dan Laa ilaahaa
illalloh). dilanjutkan membaca : “BISMILLAHIL ‘ALIIYIL ‘ADHIMI ALLOHUMMA
IJ”AL ANNUTHFATA DZURRIYYATAN THOYYIBATAN IN KUNTA QODARTA AN TUKHRIJA
DZAALIKA MIN SHULBII. ”
Artinya
; “Dengan nama Allah yang Maha Tinggi lagi Maha Agung. Wahai Allah,
jadikanlah sperma ini menjadi keturunan yang bagus kalau kehendaki
keluar dari tulang rusukku. ”
Rasululloh
S.A.W mengajarkan : “LAU ANNA AHADAKUM INNA ATAA AHLAHU QOOLA:
ALLOHUMMA JANNIBNISYSYAITHOONA WA JANNIBISYSYAITHOONA MAA ROJAQTANAA. ”
(AL-HADIST) Artinya; “Jika seorang diantara kamu bermaksud menyetubuhi
istrinya , bacalah :
“ALLOHUMMA
JANNIBNISYSYAITHOONA WA JANNIBISYSYAITHOONA MAA ROJAQTANAA(WAHAI ALLOH
JAUHKANLAH AKU DARI SYAITAN DAN JAUHKANLAH SYAITAN DARI SUATU RIZQI
YANG ENGKAU BERIKAN KEPADA KAMI ). KARENA JIKA DALAM WAKTUPERSETUBUHAN
ITU MENGHASILKAN ANAK, MAKA SYETAN TIDAK AKAN MEMBAHAYAKANNYA.
Apabila
telah mendekati ejekulasi dan maka hendaknya membaca do’a dalam hati
yaitu “ALHAMDULILLAHILLADZII KHOLAQO MINALMAAI BASYARON FAJA’ALAHU
NASABAN WASHIHRON WAKAANA ROBBUKA QODIIRON “. artinya segala puji bagi
Allah dzat yang telah menciptakan manusia dari setetes air (sperma) lalu
dia menjadikan dari setetes air itu keturunan dan keluarga. dan adalah
Tuhanmu Maha Kuasa.
Sewaktu
bersetubuh hendaknya menghindari menghadap ke arah kiblat. Hal itu
semata untuk menghormati kiblat hendaknya dalam oersetubuhan antara
laki-laki dan wanita di tutup dengan selimut. hendaknya seorang istri
jangan berpuasa (sunnah) selain telah memperoleh ijin suaminya. kalaupun
tetap berpuasa tanpa mendapatkan ijinnya maka puasanya tidak di
terima, kendati ia lapar dan dahaga saja. seorang istri hendaknya pula
jangan pula keluar rumah kecuali memperoleh ijin suami. kalau terpaksa
keluar rumah tanpa memperoleh ijinnya maka para malaikat yang ada
dilangit melaknatinya, demikian pula para malaikat yang bertugas di
bumi, malaikat rahmat dan malaikat juru siksa. hal itu terus
berlangsung hingga dirinya bertaubat atau kembali kerumahnya. bahaya
itu akan berlaku menimpa dirinya sekalipun suaminya seorang yang
aniaya.
BAB 11
HIKAYAT
Abdullah
alwasiti bercerita bahwa pernah di arafah aku melihat seorang
perempuan ia berkata, “barang siapa mendapat petunjuk Allah maka takkan
ada yang dapat menyesatkanya, Barang siapa di sesatkan Allah maka
tidak ada orang yang akan menunjukanya “.
Tahulah
aku bahwa wanita itu seorang tersesat jalan. aku bertanya. ”wahai
perempuan dari mana asalmu?” ia menjawab “maha suci Allah Dzat yang
telah meng Isra’ kan hambanya pada suatu malam dari masjidil haram ke
masjidil aqsho “.
Tahulah
aku bahwa perempuan itu berasal dari muqodas. aku bertanya :”untuk
keperluan apa kedatanganmu kemari?” ia menjawab:”diwajibkan oleh Allah
atas manusia menunaikan haji bagi orang yang mampu menempuh
perjalananya”. aku bertanya:”kau punya suami?” ia menjawab:”janganlah
kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan dengan masalah
ltu!”. ”apa kau bersedia naik unta ?” tanyaku. ia menjawab:”perkara apa
saja dari kebaikan yang kamu kerjakan maka Allah mengetahuinya”.
Manakala perempuan itu hendak menaiki kuda, ia berkata :”katakanlah
kepada orang-orang yang beriman agar menundukKan pandangan mereka! “.
Maka
akupun berpaling dari memandanginya. setelah berada di punggung
kendaraan kembali aku bertanya :”siapa namamu?” dan “ceritakanlah kisah
mariam didalam Al Qur’an ?” jawabnya. “kau punya anak?” ia menjawab
:”berwasiatlah ibrahim dengan milat itu kepada anak-anaknya dan Yaqub “.
Akupun
mengerti bahwa ia mempunyai beberapa anak. aku melanjutkan pertanyaan :
”siapa nama mereka ?”ia menjawab:”dan Allah berfirman kepada Musa
dengan firman-firman-Nya. dan Allah menjadikan Ibrahim sebagai kekasih
(pilihan). Hai Dawud, sesungguhnya kami menjadikan kamu kholifah di muka
bumi”. (jadi nama anak-anak mereka adalah Musa, Ibrahim, dan dawud).
Aku
bertanya :”ke daerah mana aku dapat menjumpai mereka ?” ia menjawab :”
dan beberapa tanda, dengan bintang mereka di beri petunjuk jalan “.
akupun mengerti bahwa perempuan itu termasuk salah seorang yang ada
dalam rombongan pengendara unta.Aku melanjutkan :”mariam beberapa hari
ini kau belum makan apa-apa?” ia menjawab : ” sesungguhnya aku bernadzar
kepada Tuhan Arrahman untuk berpuasa.
Manakala
aku telah sampai ketempat anak-anaknya dan mereka melihat ibundanya
mereka menangis seketika, perempuan itu berkata:” salah seorang di
antara kamu pergilah kekota dengan membawa uang untuk berbelanja “.Aku
bertanya kepada anak-anaknya tentang ibundanya itu. mereka menjawab
“sesungguhnya dia sudah tiga hari ini tersesat jalan. ia bernadzar tidak
akan berbicara apa-apa kecuali menggunakan bahasa Al Qur’an”. setelah
itu aku bertanya kepada mereka, begitu melihat bahwa mereka menangis
semua.
mereka
menjawab:”sesungguhnya ia dalam keadaan nadzar”.Maka akupun buru-buru
masuk menjumpainya dan bertanya kepadanya mengenei keadaan yang di
alami. perempuan itu menjawab:”dan sakaratul maut datang dengan nyata “.
Setelah
kematiannya malamnya aku bermimpi bertemu dengan perempuan itu. aku
bertanya:”dimana kamu sekarang?” ia menjawab :”sesungguhnya orang-orang
yang bertaqwa di tempatkan dalam surga dan sungai-sungai, di tempat
yang di senangi di sisi Tuhan Yang Berkuasa “.
Diriwayatkan
dari Rosulullah S.A.W bahwa beliau bersabda :”sesungguhnya istri yang
mentaati suaminya di mohonkan ampunan oleh burung-burung yang terbang
diudara, ikan-ikan yang ada di air dan para Malaikat yang ada di langit,
selagi istri itu berada dalam keridloan suaminya “. (Al-hadits )
BAB 12
HIKAYAT
Di
baghdad ada seorang laki laki menikah dengan anak puteri pamannya
sendiri. Dalam pernikahan itu ia berjanji tidak akan menikah lagi dengan
wanita lain. Suatu hari ada seorang perempuan datang (belanja) ke
tokonya. Ia meminta lelaki itu untuk menikahi dirinya. Lelaki itupun
bercerita apa adanya, bahwa dia telah mengikat janji dengan istrinya
(anak pamannya)untuk tidak akan kawin lagi dengan wanita lain.Tetapi
perempuan itu terus mendesak dirinya, hingga dirinya rela sekalipun
hanya di gilir pada hari jum’at. Lelaki itupun menikahinya.
Masa
itu telah berlalu, hingga sampai memasuki kedelapan bulan dalam
pernikahannya dengan wanita lain, isterinya mulai curiga. Ia tidak
menyukai tingkah suaminya yang mulai tidak beres. Ia memerintahkan
pembantunya supaya menyelidiki suaminya.
Menjelang
hari jum’at, suaminya keluar, isterinya meminta pembantunya untuk
mengawasi dari jauh, ke mana tujuannya. Ternyata ia masuk kerumah
seorang perempuan. Pembantu tadi terus malakukan penyelidikan Ia
bertanya kepada salah seorang tetangga perempuan itu. Jawabnya, bahwa
lelaki itu telah menikahinya beberapa bulan yang lalu. Tuan puterinya di
beritahu bahwa, suaminya telah menikah lagi dengan perempuan lain. Ia
berkata:”Kamu jangan menyebarkan rahasia ini kepada siapapun”.
Manakala
lelaki itu telah mati (yakni suami dari isteri anak pamannya) Ia
mengutus pembantunya supaya mengantarkan uang sebanyak 500 dinar kepada
isterinya yang kedua. ”Pergilah kerumahnya dan katakan kepadanya
:”Semoga Allah menambah pahalamu menjadi lebih besar. Sesungguhnya
suamimu telah mati. Ia meninggalkan uang sebanyak 8000 dinar. Yang tujuh
ribu dinar diberikan kepada anaknya. Yang 1000 dinar lagi dibagi dua
antara aku dan kamu. ”
Ketika
isteri mudanya mendapat penjelasan itu, ia menolak pemberian uang dari
isteri tua. Ia berkata kepada pembantunya:”Kembalikan uang itu
padanya. Aku tidak akan mengambil maskawin daripadanya, dan aku tidak
ingin mengambil tinggalan apapun dari padanya. ”
Tersebut
dalam riwayat, kelanjutan hadits diatas : “AYYUMAMRA-ATIN ‘ASHOT
ZAUJAHAA FA’ALAIHAA LA’NATULLAAHI WAL MALAAIKAATIWANNAASI AJMA’IINA”.
(al hadits) “Mana saja isteri yang berbuat durhaka kepada suaminya, maka
ia memperoleh laknat Allah, para malaikat, dan semua manusia”.
Imam
Ali bin abu thalib berkata : ”Aku mendengar Rasulullah bersabda :
”Seandainya seorang isteri membawa makanan yang di goreng dan yang di
rebus di kedua tangannya lalu, diletakkan (disiapkan)untuk suaminya,
tetapi suaminya tidak meridhoinya, maka dihari kiamat kelak isteri itu
akan di kumpulkan bersama golongan Yahudi dan Nashrani. (al hadits)
Abdullah bin mas’ud mengatakan bahwa, aku mendengar Rasulullah
bersabda
: “AYYUMAA IMRA-ATIN DA’AAHAA ZAUJUHAA ILAA FIRAASYIHI FAS.A.WWAFAT
BIHI hATTA YANAAMA FAHIYA MAL’UUNAH”. (al hadits) “Mana saja isteri yang
di ajak suaminya bersetubuh, lalu ia mengulur ngulur waktu hingga
suaminya tertidur, maka ia terlaknat”.
Dalam
kelanjutan hadits di katakan: ”Mana saja isteri yang bermuka masam di
depan wajah suaminya maka ia berada dalam kemurkaan Allah hingga ia
tersenyum kembali dan berusaha meminta keridhoannya. Dan mana saja
isteri yang keluar rumahnya tanpa mendapat restu suaminya maka ia
dilaknati para malaikat hingga kembali”.
Abdurrahman
bin ‘auf mengatakan, aku mendengar bahwa Rasulullah bersabda:
“AYYUMAMRA-ATIN ‘ABASAT FII WAJHI ZAUJIHAA ILLAA QAAMAT MIN
QABRIHAAMUSWADDATALWAJHI”. (al hadits) “Mana saja isteri yang bermuka
masam di depan suaminya, kelak ia di bangkitkan dari kuburnya dalam
keadaan berwajah hitam”.
Dari
‘usman bin ‘affan Ra berkata, aku mendengar Rasulullah bersabda : “MAA
KHARAJAT IMRA-ATUMMINBAITI ZAUJIHAA BI GHAIRI IDZNIHI ILLAA LA’ANAHAA
KULLU SYAI-IN THALA’AT ‘ALAIHISYSYAMSU HATTAL HIITAANI FIL BAHRI. ”
“Tidaklah seorang isteri keluar dari rumah suaminya tanpa mendapat
restunya, kecuali dilaknati oleh segala sesuatu yang tersiram matahari,
hingga termasuk ikan ikan yang ada dilaut”. (al hadits)
BAB 13
Ummul
mu’minin ‘aisyah ra berkata : “YAA MA’SYARANNISAA LAU TA’LAMNA BI
HAQQI AZWAAJIKUNNA ‘ALAIKUNNALAJA’ALATILMARATU MINKUNNA
TAMSAhULGHUBAARA ‘AN QADAMA ZAUJIHAA BUhURRI WAJHIHAA”(al hadits) “
Wahai kaum wanita, seandainya kamu akan mengetahui hak-hak suamimu atas
dirimu, niscaya kamu akan bersedia membersihkan debu ditelapak kaki
suaminya dengan sebagian wajahnya”.
Tersebut
dalam riwayat Al Bazzar dari ‘aisyah ra bahwa beliau berkata : “Aku
bertanya kepada rosulullah S.A.W “Siapa orang yang paling besar
hakhaknya atas wanita?. Beliau menjawab:”Suaminya”. Aku
melanjutkan:”siapa orang yang paling besar hak-haknya atas seorang laki
laki?”. Beliau menjawab”Ibunya”.
Rasullullah
S.A.W bersabda :”Ada tiga macam orang yang mana Allah tidak berkenan
menerima sholatnya, kebajikannya tidak dibawa naik kelangit.Yaitu :
1) Budak yang lari dari tuannya hingga kembali,
2) Isteri yang di marahi suaminya hingga mendapat ridhonya ;
3) Pemabuk hingga sadar (dari mabuknya). Riwayat Ibnu huzaimah, ibnu hibban dan al baihaqqi dari jabir.
Rasulullah
bersabda ketika mengingatkan kaum wanita (isteri):”IDZAA QAALATIL
MAR-ATU LIZAUJIHA MAA RA-AITU MINKA KHAIRUNQATHTHU FAQAD hABITHA
‘AMALUHA””. “Apabila seorang istri berkata pada suaminya :”Sama sekali
aku tidak pernah melihat kamu berbuat baik”. Maka benar benar telah
terhapuslah amalnya”. (riwayat ibnu adi dan ibnu ‘asakir dan ‘aisyah)
Thalhah
bin ubaidillah ra mengatakan bahwa, aku mendengar Rasulullahbersabda :
“AYYUMAMRA-ATIN QAALAT LIZAUJIHAA MAA RA AITU MINKA KHAIRAN QUTHTHA
ILLAA AYASAHALLAAHU TA’AALAA MIRRAhMATIHI YAUMALQIYAAMATI” “Mana saja
perempuan (isteri) yang berkata pada suaminya : Sama sekali aku belum
pernah melihat engkau berbuat baik”, Kecuali Allah memutuskan rahmat
baginya kelak di hari kiamat”. (al hadits)
Rasulullah
bersabda : ”Mana saja istri yang menuntut cerai suaminya tanpa ada
perkara yang memperbolehkannya sama sekali (yakni alasan yang jelas),
maka haram baginya menikmati bau harumnya sorga (yakni terhalang
penciumannya pada bau sorga). (diriwayatkan oleh Ahmad, abu daud, At
turmudzi, Ibnu Mahaj, Ibnu Hibban, Al hakim dari tsauban).
Abu
bakar As sidiq Ra mengatakan, aku mendengar bahwa Rasulullah S.A.W
bersabda:”Apabila seorang istri berkata pada suaminya :”Ceraikanlah aku
“, Maka kelak dihari kiamat ia datang dengan membawa wajah tanpa
terbalut daging, sementara lidahnya menjulur keluar dari langit langit
mulut dan ia turun menuju tengah-tengah jurangnya neraka, kendati ia
selalu berpuasa dan beribadah di waktu malamnya”.
Rasulullah
S.A.W bersabda:”INNALLAAHA LAA YANDZURU ILAA IMRAATIN LAA TASYKURU
ZAUJAHAA.”. “Sesungguhnya Allah tak mau memperhatikan seseorang istri
yang tidak mau bersyukur kepada suaminya”. (al hadits)
Rasulullah
S.A.W bersabda :”LAA YANDZURULLAAHU TABAARAKA WATA’AALAA ILAA
IMRA-ATIN LAA TASYKUR LIZAUJIHAA WAHIYA LAA TSTAGHNII ‘ANHU”. “Allah
tidak mau memperhatikan seseorang istri yang menolak bersyukur kepada
suaminya, padahal ia tetap membutuhkan suaminya”.
Diriwayatkan
dari Abu Hurairah, aku mendengar bahwa Rasulullah S.A.W bersabda
“Seandainya seorang istri mempunyai Kekayaan seperti yang dikuasai
Sulaiman bin daud, dan suaminya ikut makan hartanya Itu, kemudian
istrinya berkata kepadanya:”Mana harta milikmu !!”, kecuali Allah akan
menghapus amalnya (amal istri) selama empat puluh tahun”.
Usman
bin ‘affan berkata, aku mendengar Rasulullah S.A.W
bersabda:”Seandainya seorang istri mempunyai sejumlah harta kekayaan
sebanyak isi dunia dan memberikan Semua kekayaan itu pada suaminya, dan
setelah berlalu beberapa Saat lalu di ungkit-ungkitnya, kecuali Allah
akan menghapus semua amalnya dan akan mengumpulkannya bersama dengan
Qorun”.
BAB 14
PERTANYAAN PERTAMA PADA SUAMI DAN ISTRI
Rasulullah
bersabda :”AWWALU MAA TUS-ALUL MAR-ATU YAUMAL QIYAAMATI ‘ANSHOLAATIHAA
WA’AN BA’LIHAA” (al hadits) “Pertama kali yang di pertanyakan kepada
seorang isteri pada hari kiamat adalah tentang sholatnya dan suaminya”.
Rasulullah
bersabda:”Permulaan yang di perhitungkan dari seseorang lelaki (suami)
adalah mengenai shalatnya, kemudian tentang istrinya dan
perkaraperkara yang di kuasainya. Jika pergaulannya bersama mereka baik
dan lelaki itu berlaku baik kepada semuanya, maka Allah berbuat bagus
kepadanya. Dan permulaan perkara yang di perhitungkan (yakni
dihisab)bagi perempuan adalah tentang shalatnya kemudian tentang
hak-hak suaminya. (al hadits)
Rasulullah
S.A.W bersabda kepada istrinya:”Dimana engkau mempunyai kewajiban
kepada suamimu?. Istri beliau menjawab : Aku tidak akan berbuat lalai
dalam melayaninya, kecuali terhadap hal-hal yang kurasa atidak mampu
kulakukan. Rasulullah S.A.W pun melanjutkan :”Bagaimanapun kamu bergaul
bersamanya maka sesungguhnya suamimu adalah sorga dan nerakamu”. (al
hadits).
Tersebut
dalam riwayat, bahwa Nabi S.A.W bersabda:”Ada empat macam wanita yang
masuk sorga dan empat macam wanita yang lain masuk neraka. Diantaranya
empat macam wanita yang masuk sorga adalah, istri yang memelihara
kesucian (kehormatan dirinya ), menaati perintah Allah dan menaati
suaminya, banyak anaknya, penyabar, mudah menerima pemberian sedikit
bersama suaminya, mempunyai rasa malu. Kalau suaminya tidak ada ditempat
(sedang pergi) ia memelihara dirinya dan harta suaminya. Kalau
suaminya sedang di rumah ia mengekang lisannya.
Yang
lain adalah isteri yang ditinggal mati suaminya, ia mempunyai anak
banyak tetapi ia menahan diri untuk kepentingan anak-anaknya, memelihara
mereka berlaku baik pada mereka dan tidak menikah lagi karena khawatir
jika menyia-nyiakan anak-anaknya itu.
Adapun
empat wanita yang lain yang di tetapkan masuk neraka adalah, istri
yang berlisan buruk pada suaminya, kalau suaminya sedang pergi ia tidak
menjaga kehormatan dirinya, kalau suaminya berada dirumah lisannya
terus mencerca dengan kata-kata yang buruk, dan isteri yang membebani
suaminya dengan beban yang tidak sanggup dipikulnya, dan isteri yang
tidak menutup dirinya dari lelaki lain bahkan ia keluar rumah dengan
dandanan yang berlebihan, dan isteri yang tidak mempunyai aktivitas lain
kecuali makan, minum, tidur dan tidak mempunyai kecintaan untuk
melaksanakan sholat, tidak menaati Allah dan rasulNYA dan tidak berusaha
menaati suaminya. Isteri yang bersikap seperti itu adalah istri yang
terlaknat, termasuk ahli neraka, kecuali jika segera bertaubat. (al
hadits)
Kata
Sa’ad bin waqash, aku mendengar Rasulullah S.A.W
bersabda:”Sesungguhnya seorang istri jika tidak membesarkan hati
suaminya sewaktu mengalami kesempitannya, maka Allah akan melaknatnya
dan begitu pula para malaikat semuanya ikut melaknat dirinya. (al
hadits) Salman Al farissi mengatakan bahwa aku mendengar Rasulullah
S.A.W
bersabda:”MAA
NADZARATIMRA-ATUN ILAA GHAIRI ZAUJIHAA BISYAHWATIN ILLAA SUMMIRAT
‘AINAHAA YAUMANLQIYAAMATI. (al hadits)“Tidaklah seoarang istri yang
memperhatikan lelaki yang bukan suaminya di sertai syahwat, kecuali
kedua matanya kelak di hari kiamat akan di butakan”.
Abu
ayyub Al anshari mengatakan, aku mendengar bahwa Rasulullah S.A.W
bersabda : ”Dilangit dunia, Allah menciptakan (menempatkan tujuh puluh
ribu malaikat, d imana mereka melaknati setiap isteri yang menghianati
suaminya dalam penggunaan hartanya. Di hari kiamat kelak mereka
dikumpulkan bersama para tukang sihir, para dukun, kendati sepanjang
hidupnya dihabiskan untuk melayani suaminya”. (al hadits)
Kata
mu’awiyah, sesungguhnya aku mendengar bahwa Rasulullah S.A.W besabda:
”AYYUMAA IMRA-ATIN AKHADZAT MIN MAALIN ZAUJIHAA BIGHAIRI IDZNIHI ILLA
KAANA ‘ALAIHAA WIZRUU SAB’IINA ALFA SAARIQ”. “Mana saja seorang isteri
yang mengambil harta suaminya, tanpa seizinnya kecuali dirinya mendapat
tujuh puluh dosanya pencuri”. (al hadits)
Rasulullah
S.A.W bersabda:”Allah mengharamkan setiap orang msuk sorga sebelum
aku, hanya saja melihat dari sebelah kananku seorang perempuan yang
mendahului aku menuju pintu sorga. Aku bertanya “Bagaimana perempuan ini
mendahuluiku? Dijawab:”Hai Muhammad, dia adalah perempuan yang bagus.
Ia mempunyai anak-anak yatim tetapi ia bersabar merawat mereka hingga
mencapai usia beligh. Lalu dia bersyukur kepada Allah terhadap semua
itu”. (al hadits)
BAB 15
Umar
bin khatab mengatakan, bahwa Rasulullah S.A.W bersabda : ”AYYUMAA
IMRA-ATIN RAFA’AT SHAUTAHAA ‘ALAA ZAUJIHAA ILLAA LA’ANAHAA KULLU SYAI-IN
THALA’AT ‘ALAIHI SYAMSU “. (AL HADITS) “Mana saja isteri yang
memperkeraskan suaranya kepada suaminya kecuali dilaknat oleh segala
sesuatu yang tersinar oleh sinar mentari. (al hadits)
Abu
dzar mengatakan, aku mendengar bahwa Rasulullah S.A.W bersabda :
”Sesungguhnya kalaupun seseorang isteri beribadah seperti ibadahnya para
malaikat dan manusia yang ahli ibadah. Kemudian ia membuat
keprihatinan kepada suaminya karena masalah nafkah, kecuali pada hari
kiamat ia dating sementara tangannya terbelenggu pada leher dan kakinya
terikat, mulutnya dirobek, wajahnya pucat dan dirinya digantung oleh
malaikat yang sangat keras seraya diseret menuju neraka”. (al hadits)
Salman
Al farisi mengatakan, aku mendengar bahwa Rasulullah S.A.W bersabda:
”Mana saja isteri yang bersolek dan mengenakan wewangian, keluar rumah
tanpa mendapat izin dari suaminya, maka sesungguhnya dia berjalan dalam
kemurkaan Allah dan kebencianNYA hingga kembali”. (al hadits)
Rasulullah
S.A.W bersabda:”AYYUMAMRA-ATIN NAZA’AT TSIYAABAHAA FII GHAIRI BAITIHAA
KHARAQALLAAHU ‘AZZA WAJALLA ‘ANHAA SITRAHU”(rawahu ahmad dan thabrani
dan hakim dan baihaqi) “Mana saja isteri yang menukar pakaiannya dilain
rumah dengan maksud sengaja di buka supaya terlihat lelaki lain, maka
Allah pasti merobek penutupnya (yakni Allah tidak akan menutupi dosanya
) . (dari ahmad thabrani al-hakim dan al baihaqi)
Tersebut
dalam riwayat Al hakim bahwa, ada salah seorang perempuan bertanya
kepada Nabi S.A.W, katanya:”Sesungguhnya putra pamanku bermaksud melamar
aku, karena itu jelaskan kepadaku apa saja hak-hak suamiatas istrinya.
Jika hak-hak itu sanggup aku jalani niscaya aku siap menikah.
Rasulullah
S.A.W menjawab:”Diantara hak-hak suami adalah seandainya dari
hidungnya mengalir darah atau nanah, maka istrinya menjilatinya maka
yang demikian itu belum cukup menunaikan hak-haknya. Seandainya
diperbolehkan seseorang bersujud kepada orang lain, tentu aku
perintahkan seorang istri supaya bersujud kepada suaminya”. Wanita itu
berkata: “Demi dzat yang mengutusmu dengan hak, selama di dunia aku tak
akan menikah”.
Tersebut
dalam riwayat diberitakan oleh Aisyah Ra bahwa, ada seorang perempuan
datang menghadap Nabi S.A.W seraya berkata:”Hai Rasulullah, aku ini
seorang wanita yang masih muda. Baru-baru ini aku sedang dilamar
seseorang tapi aku belum suka menikah, sebenarnya apa sajakah hak-hak
suami atas istrinya itu? ”Rasulullah S.A.W mwnjawab:”Sekiranya mulai
dari muka hingga sampai kakinya dipenuhi oleh penyakit bernanah, lalu
istrinya menjilati seluruhnya, maka yang demikian itu belum terbilang
memenuhi rasa syukur terhadap suami”. Perempuan muda itu berkata:”Kalau
begitu pantaskah aku menikah?”. Rasulullah S.A.W berkata:”Sebaiknya
menikahlah karena menikah itu baik”.
Tersebut
dalam riwayat At thabrani:”Sesungguhnya seorang istri terhitung belum
memenuhi hak-hak Allah ta’ala sehingga dia memenuhi hak-hak suaminya
keseluruhan. Seandainya suaminya meminta dirinya sementara ia masih
berada diatas punggung onta, maka ia tidak boleh menolak suaminya atas
dirinya”. (yang di maksud meminta dirinya adalah meminta untuk melayani
seksual suaminya). (Al hadits)
Ibnu
Abbas Ra mengatakan, ada seorang perempuan dari kats’am menghadap
Rasulullah S.A.W, katanya:”Aku ini seoarang perempuan yang masih
sendirian, aku bermaksud menikah. Sesungguhnya apa sajakah hakhak suami
itu? Beliau menjawab:”Apabila suami menghendaki istrinya seraya terus
menggoda, sementara waktu itu istrinya masih diatas punggung unta, maka
ia tidak boleh menolaknya.
Diantara
hak suami adalah hendaknya istri jangan memberikan sesuatu apapun dari
rumahnya kecuali mendapat izin dari suaminya. Kalau ia tetap melakukan
perbuatan itu, maka ia berdosa dan pahalanya diberikan kepada
suaminya. Diantara hak suami yang lain adalah hendaknya istri jangan
berpuasa sunnah kecuali mendapat izin dari suaminya, kalau ia tetap
berpuasa maka hanya mendapat rasa lapar dan dahaga, puasanya tidak
diterima. Kalau istrinya memaksa keluar rumah tanpa memperoleh izin
dari suaminya maka ia dilaknati para malaikat, hingga kembali dan
bertaubat”. (Al hadits)
Ali
Ra mengatakan, aku berkunjung kepada Nabi S.A.W bersama Fatimah Ra.
Sampai dirumah beliau, kujumpai sedang menangis terisak isak, Aku
bertanya: ”Bapak dan Ibuku menjadi tebusan atas kesedihanmu, wahai
Rasulullah, apa sebenarnya yang menyebabkan engkau menangis seperti
itu?”. Rasulullah menjawab: ”Hai Ali pada malam ketika aku di isra’kan
kelangit, kulihat berbagai macam kaum wanita dari umatku di siksa
dineraka dengan berbagai macam siksaan, Melihat hal itu aku menangis
lantaran beratnnya siksaan yang di timpakan kepada mereka. Aku melihat
ada wanita yang digantung dengan rambutnya dimana otaknya mendidih.
Aku
melihat lagi wanita yang di gantung dengan lidahnya, sementara yang
mendidih dituangkan ke tenggorokannya. Aku juga melihat wanita yang
kedua kakinya dipasung hingga susu dan kedua tangannya terbelenggu pada
ubun-ubunnya. Sementara Allah memerintah ular dan kalajenging untuk
menyiksanya. Aku juga melihat wanita yang digantung dengan kedua
susunya. Aku melihat pula wanita berkepala babi dan berbadan keledai, ia
mengalami beribu-ribu siksaan.
Aku
melihat wanita yang berbentuk(berupa) anjing, sementara api neraka
membakar dirinya masuk melalui lubang mulutnya dan keluar melalui
duburnya, sementara para malaikat memukulimya dengan godam yang panas.
Mendengar
semua itu Fatimah Az Zahra bangkit seraya berkata: ”Wahai Kekasihku
dan permata hatiku, sesungguhnya perbuatan apakah yang pernah dilakukan
mereka, hingga mengalami siksaan seperti itu?”. Rasulullah menjawab:
”Wahai putriku perempuan yang digantung menggunakan rambutnya sendiri
adalah disebabkan ia tidak menutup
rambutnya
dari pandangan lelaki lain. Perempuan yang di gantung menggunakan
lidahnya disebabkan ia suka menyakiti hati suaminya. Perempuan yang
digantung menggunakan kedua susunya disebabkan ia mengotori tempat tidur
suaminya (dia bersetubuh dengan lelaki lain). Perempuan yang dipasung
kedua kakinya pada kedua susu dan kedua tangannya dirantai
keubun-ubunnya, sementara Allah memerintah ular dan kalajengking untuk
menyiksanya, disebabkan dia tidak mandi jinabat, tidak mandi setelah
haid danmeremehkan sholat. Perempuan yang berkepala babi dan berbadan
keledai sesungguhnya perempuan itu suka mengadu-adu lagi pendusta.
Adapun
perempuan yang berbentuk anjing sementara api membakar dirinya masuk
melalui mulut dan keluar melalui duburnya, sesungguhnya disebabkan dia
perempuan yang suka mengungkit ungkit (pemberian kepada suaminya)lagi
berhati dengki. Wahai putriku, celaka sekali istri yang bermaksiat
(durhaka) kepada suaminya”. (Al hadits)
Singkatnya
bahwa kedudukan suami bagi istrinya Jika dimisalkan seperti kedudukan
orang tua atas anak-anaknya, Sebab ketaatan anak terhadap orang tuanya
dan usaha anak mencari keridhaan orang tuanya termasuk wajib.
Sebaliknya kewajiban itu tidak berlaku bagi suami.
BAB 16
PERKARA PENTING
Tersebut
dalam riwayat dari Abu Hurairah Ra, katanya, suatu hari Rasulullah
S.A.W menjenguk putrinya, Fathimah-. Sampai di rumahnya, Rasulullah
melihat putrinya sedang menggiling tepung sambil menangis. Rasulullah
bertanya:”Kenapa menangis, Fathimah. Mudah mudahan Allah tidak membuat
matamu menangis lagi”. Fathimah menjawab:”Bapak, aku menangis hanya
karena batu penggiling ini, dan lagi aku hanya menangisi kesibukanku
dirumah yang datang silih berganti”. Rasulullah kemudian mengambil
tempat duduk disisinya. Fathimah berkata:”Bapak demi kemulyaanmu,
mintakanlah kepada Alli supaya membelikan seorang budak untuk membantu
pekerjaan pekerjaanku membuat tepung dan menyelesaikan pekerjaan rumah”.
Manakala
Rasulullah S.A.W selesai mendengar perkataan putrinya, beliau bangkit
dari duduknya dan berjalan menuju tempat penggilingan. Beliau memungut
segenggam biji-bijian gandum dimasukkan kepenggilingan. Dan mebaca
“BISMILLAHIR RAHMANIR RAHIIMI” Maka berputarlah alat penggilingan itu
karena izin Allah. Beliau terus memasukkan biji-bijian itu sementara
alat penggiling tiu terus berputar dengan sendirinya, seraya memuji
Allah dengan bahasa yang tidak di pahami manusia. Hal itu terus
berajalan hingga biji-bijian itu habis.
Rasululah
S.A.W bersabda kepada alat penggilingan itu: ”Berhentilah dengan ijin
Allah”. Seketika alat itu berhenti. Ia berkata seraya mengutip ayat Al
Qur’an: ”HAi orang orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargam
dari api neraka, Yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu.
Penjaganya adalah malaikat-malaikat yang kasar, keras yang tidak pernah
mendurhakai Allah terhadap yang diperintahkanNYA, dan mereka selalu
mengerjakan segala apa yang diperintah”. (Qs At Tahrim 6)
Merasa
takut jika menjadi batu kelak akan masuk neraka, demikian tiba tiba
batu itu berbicara dengan ijin Allah. Ia berbicara menggunakan bahasa
Arab yang fasih. Selanjutnya batu itu Berkata:”Wahai Rasulullah, demi
dzat yang mengutusmu dengan hak menjadi Nabi dan rasul, seandainya
engkau perintahkan aku untuk menggiling biji-bijian yang ada diseluruh
jagat Timur dan Barat, niscayaakan kugiling seluruhnya’. Dan aku
mendengar pula bahwa Nabi S.A.W bersabda:”Hai batu, bergembiralah kamu
sesungguhnya kamu termasuk batu yang kelak di gunakan untuk membangun
gedung Fathimah disorga”. Seketika itu batu penggiling itu sangat
bahagia dan berhenti.
Nabi
S.A.W bersabda kepada putrinya, Fathimah : ”Kalau Allah berkehendak,
hai Fathimah, niscaya batu penggiling itu akan bergerak dengan
sendirinya untukmu. Tetapi Allah berkehendak mencatat kebaikan-kebaikan
untuk dirimu dan menghapus keburukan-keburukanmu serta mengangkat
derajatmu. Hai Fathimah mana saja seoarang istri yang membuatkan tepung
untuk suaminya dan anak anaknya, kecuali Allah mencatat baginya
memperoleh kebaikkan dari setiap butir biji yang tergiling, Dan
menghapus keburukkannya serta meninggikan derajatnya.
Hai
Fathimah mana saja istri yang berkeringat disisi alat penggilingannya
karena membuatkan bahan makanan untuk suaminya, kecuali Allah akan
memisahkan atas dirinya dan neraka sejauh tujuh hasta. Hai Fathimah mana
saja seorang istri yang meminyaki rambut anak-anaknya dan menyisir
rambut mereka dan mencuci baju mereka, kecuali Allah akan mencatat
baginya memperoleh pahala seperti pahalanya orang yang memberikan makan
kepada seribu orang yang sedang kelaparandan seperti pahalanya orang
yang memberikan pakaian kepada seribu orang yang sedang telanjang.
Hai
Fathimah mana saja istri yang memenuhi kebutuhan tetangganya, kecuali
Allah kelak mencegahnya(tidak memberi kesempatan baginya) Untuk minum
air dari telaga Kautsar besok di hari kiamat. Hai Fathimah tetapi yang
lebih utama dari pada itu semua adalah keridhoan suami terhadap
istrinya. Sekiranya suamimu tidak meridhoimu, tentu aku tidak akan
mendoakan dirimu”. “Bukankah engkau mengerti, hai Fathimah, bahwa
keridhoan suami itu menjadikan sebagian dari keridhoan Allah, dan
kebencian suami merupakan bagian dari kebencian Allah.
Hai
Fathimah, manakala seorang istri sedang mengandung, maka para malaikat
memohonkan ampunan untuknya, dan setiap hari dirinya dicatat
memperoleh seribu kebajikan dn seribu keburukannya di hapus. Apabila
telah mencapai rasa sakit (menjelang melahirkan)maka Allah mencatat
baginya memperoleh pahala seperti pahalanya orang orang yang berjihad
di jalan Allah. Apabila telah melahirkan dirinya terbebas dari segala
dosa seperti keadaannya di hari setelah dilahirkannya oleh ibunya”.
“Hai
Fathimah, mana saja istri yang melayani suaminya dengan niat yang
benar, kecuali dirinya terbebas dari dosa-dosanya bagaikan pada hari
dirinya dilahirkan ibunya. Ia keluar dari dunia (yakni mati) kecuali
tanpa membawa dosa, ia menjumpai kuburnya sebagai pertamanan sorga,
Allah memberinya pahala seperti pahala seribu orang yang naik haji dan
berumrah, dengan seribu malaikat memohonkan ampun padanya sampai hari
kiamat”.
“Mana
saja seorang istri yang melayani suaminya sepanjang hari dan malam, di
sertai hati baik, niat yang ikhlas dan niat yang benar, kecuali Allah
akan mengampuni semua dosa-dosanya. Pada hari kiamat kelak dirinya akan
di beri pakaian berwarna hijau, dan dicatatkan untuknya pada setiap
rambut yang ada di tubuhya dengan seribu kebajikan, dan Allah memberi
pahala untuknya sebanyak orang yang pergi haji dan umrah”. “Wahai
Fathimah mana saja seorang istri yang tersenyum manis di muka suaminya,
kecuali Allah akan memperhatikannya dengan penuh mendapat rahmat.
Hai
Fathimah, mana saja seorang istri yang menyediakan tidur bersama
suaminya dengan sepenuh hati, kecuali ada seruan yang di tujukan
kepadanya dari balik langit: Hai perempuan menghadaplah dengan membawa
amalmu, sesungguhnya Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan
yang datang”.
“Wahai
Fathimah, mana saja seorang istri yang meminyaki rambut suaminya
demikian juga jenggotnya memangkas kumisnya dan memotong kukukukunya,
Kecuali Allah kelak memberi minum padanya dari “RAHIQIM MAKHTUM”(tuak
yang tersegel)dan dari sungai yang terdapat di sorga. bahkan Allah
akanmeringankan beban sakaratulmaut, kelak dirinya akan menjumpai
kuburnya bagai taman sorga. Allah mencatatnya terbebas dari neraka dan
mudah melewati shirath(titian)”.
Pengertian,
yang dimaksud “RAHIQ” adalah “AL-KHAMRU ASYSYAFIYATU ATHTHAYYIBATU”,
yakni arak yan jernih lagi sangat bagus. Sedangkan makna
“MAKHTUM”adalah. ”AL-MAMNU’MIN AN TAMASSAHU YADUN ILAA AN YAFUKKAL
ABRAARU KHATMAHU”, yakni tercegah dari penjamahan tangan hingga orang
-orang yang baik melepas segalanya. Jelas bahwa barang yang disegel jauh
lebih baik ketimbang barang yang mengalir.
Diriwayatkan
dari ibnu mas’ud ari Nabi S.A.W bahwa beliau besabda:”IDZAA GHASALATIL
MAR-ATU TSIYAABA ZAUJIHAA KATABALLAHU LAHAA ALFA HASANATIN WAGHAFARA
LAHAA ALFA SAYYI-ATIN WARAFA’A LAHAA ALFA DARAJATIN WASTAGHFARA LAHAA
KULLU SYAI-IN THALA’AT ‘ALAIHISY-SYAMSU”. (AL HADITS)
“ketika
seorang istri mencucikan pakaian suaminya, maka Allah mencatat
untuknya memperoleh seribu kebajikan dan mengampuni seribu
keburukannya. meninggikan seribu kali derajat untuknya dan semua barang
yang berada di bawah siraman mentari memohonkan ampun untuknya”.
Aisyah RA mengatakan : Suara penenunan yang dilakukan oleh seorang
istri, itu menyamai gemuruh suara takbir dalam perang fi sabilillah.
mana saja seorang istri yang memberi pakaian suaminya dari hasil
tenunannya, kecuali pada benang tenunan itu tercatat seribu kali
kebajikan.
Nabi S.A.W bersabda:”MANISTARAA LI’IYAALIHI SYAI-ANTSUMMA hAMALAHU BIYADIHI ILAIHIM THALLAAHU ‘ANHU DZUNUUBA SAB’IINA SANATAN”. “Barang
siapa yang membuat gembira hati seorang istri maka ia bagaikan tengah
menangis karena takut kepada Allah maka Allah mengharamkan tubuhnya
dari api neraka”.
Rasulullah
bersabda:”Barang siapa yang membuat gembira hatinya seorang wanita,
seakan akan menangis karena takut kepada Allah. Dan barang siapa menagis
karena takut pda Allah maka Allah mengharamkan tubuhnya masuk kedalam
api neraka”. (al hadits)
Rasulullah
S.A.W bersabda:’Suatu rumah yang mana didalamnya terdapat anak anak
perempuan, maka setiap hari Allah menurunkan dua belas rahmat dan tidak
henti hentinya di kunjungi malaikat. Dan bagi kedua orang tuanya setiap
hari dan malam dicatat seperti ibadah selama tujuh puluh tahun”.
BAB 17
PASAL 3
KEUTAMAAN SHALATNYA WANITA DIRUMAHNYA SENDIRI
Dalam
bagian ini akan membicarakan tentangg keutamaan shalatnya orang
perempuan (istri) di rumahnya sendiri dan shalatnya itu lebih utama di
banding shalat orang perempuan di masjid, sekalipun berjamaah dengan
Rasulullah.
Humaid
As Sa’idi meriwayatkan tentang seorang perempuan yang dating kepada
Rasulullah perempuan itu bertanya:”Hai Rasulullah, sesungguhny aku
sangat senang jika shalat berjamaah denganmu”. Nabi menjawab:”Aku tau
kamu senang shalat berjamaah denganku. Tetapi shalatmu di rumahmu
sendiri lebih utama dari pada shalatmmu di kamarmu dan shalatmu di
kamarmu lebih utama di banding shalatmu diserambi rumahmu dan shalatmu
di serambi rumahmu lebih utama di banding shalatmu di masjidku ini”.
Yang demikian itu tidak lain untuk menjaga agar ketertutupan dirinya
sebagai hak yang perlu di jaga.
Rasulullah
bersabda : ”Sesungguhnya shalatnya orang perempuan di rumahnya lebih
baik dari pada shalat di kamarnya, dan sesungguhnyalah shalatnya
seorangperempuan di kamarnya lebih baik dari pada shalatnya di serambi
rumahnya, dan shalatnya seorang perempuan di serambi rumahnya itu lebih
baik dari pada shalatnya di masjid”. (al hadits riwayat Al baihaqi dari
Aisyah Ra)
Rasulullah
S.A.W bersabda :”shalat seorang perempuan di rumahnya lebih utama dari
pada shalatnya di kamarnyadan shalatnya di dalam ruangan yang berada
di tengah tengah rumahnya lebih baik dari pada shalatnya di serambi
rumahnya”. Diriwayatkan oleh abi daud dari ibnu mas’ud dan riwayat Al
hakim dari Ummu salamah.
Rasulullah
S.A.W bersabda:”SHALAATUL MAR-ATI WAHDAHAA TAFDHULU ‘ALAASHALAATIHAA
FIL JAM’I BIKHAMSIN WA’ISYRIINA DARAJATAN”. Shalatnya seorang wanita
sendirian menyamai shalatnya dalam berjamaah denga memperoleh dua puluh
lima derajat “. (di riwayatkan oleh Ad Dailami dari ibnu ‘umar) Menurut
suatu pendapat, shalat seorang wanita yang demikian itu berlaku bagi
perempuan yang masih lajang, yakni belum kawin.
Rasulullah
S.A.W bersabda :”INNA AHABBA SHALAATIL MAR-ATI ILALLAAHI FIIASYADDI
MAKAANIN FII BAITIHAA” “Sesungguhnya shalat seorang wanita yang paling
di sukai Allah adalah yang di laksanakan di dalam rumahnya yang gelap”.
Rasulullah
S.A.W berssabda :”seseungguhnya seorang istri yang keluar rumah,
padahal tidak ada kebutuhan yang teramat mendesak, maka syethan terus
memperhatikan dan mengikutinya. Syetan berkata:”Jangan kau siasiakan
setiap melewati seseorang kecuali ia kagum padamu”. lalu wanita itu
mengenakan busananya. Ketika di tanya suaminya :”Hendak kemana kamu. ?”.
ia menjawab:”Aku hendak membesuk orang sakit, atau aku hendak
mendatangi upacara pemberangkatan jenazah atau aku hendak shalat di
masjid”. Padahal tidak ada ibadah seorang perempuan yang lebih sempurna
kepada Tuhannya kecuali yang di kerjakan di rumahnya sendiri”.
Diriwayatkan
dari Abu Syaibani bahwa, ia melihat Abdullah bin Asy Syayab menghalau
perempuan perempuan dari masjid di hari jum’at Ia berkata:”Keluarlah
kalian kerumah masing masing. Hal itu Jauh lebih baik bagi kamu”. Di
riwayatkan oleh sulaiman Al ‘Lakhami dari Ath Thabrani Di riwayatkan ada
seorang perempuan yang berlalu dekat dengan abu hurairah Ra. Ia berbau
sangat harum semerbak. Abu hurairah bertanya:”Hai perempuan hendak
kemana kamu.?”. Ia menjawab:”Hendak ke masjid”. Abu hurairah
melanjutkan:”Kau mengenakan wewangian.. ?”. Ia menjawab :”Yaa”. Abu
hurairah berkata:”Kembalilah, mandi dulu. Sebab aku pernah mendengar
bahwa Rasulullah S.A.W bersabda:”Allah tidak akan menerima shalat
seorang perempuan yang keluar menuju masjid dengan membawa aroma yang
semerbak harum sehingga ia pulang kembali lantas mandi”. (Al hadits)
Yang di maksud mandi dalam hadits itu adalah menghilangkan bau harum
yang di timbulkan dari bau minyak wangi tersebut. jadi maksudnya tidak
di hususkan pada mandinya melainkan upaya menghilangkan bau wangi
tersebut.
Rasulullah
S.A.W besabda :”AL MUKHTALI’ATU WAL MUTABARRIJAATU HUNNAL
MUNAAFIQAATU”. “Perempuan perempuan yang minta cerai suaminya tanpa
‘udzur dan perempuan perempuan yang memperlihatkan perhiasan
(dandananya) kepada orang bannyak mereka termasuk munafik”.
(Diriwayatkan oleh Abu na’im dan Ibnu mas’ud)
BAB 18
LARANGAN BERHIAS DAN BERBUSANA BERLEBIHAN
Di
riwayatkan dari Aisyah RA, katanya ketika Rasulullah S.A.W sedang
duduk beristirahat di masjid, tiba tiba ada seorang perempuan golongan
muzainah terlihat memamerkan dandanannya di masjid sambil menyeret
nyeret busana panjangnya Rasulullah S.A.W bersabda:”Hai sekalian
manusia, laranglah istri istrimu (termasuk anak anak remaja perempuan
yang mereka miliki) mengenakan dandanan seraya berjalan angkuh di dalam
masjid. Sesungguhnya Bani Israil tidak akan dilaknati sehingga kaum
perempuan mereka dandanan menyolok(berlebihan)dan berjalan di dalam
masjid. (Di riwayatkan Ibnu majah)
Rasulullah
S.A.W bersabda : ”mana saja seorang perempuan yang mengenakan
wewangian, kemudian keluar rumah lalu melewati orang banyak dengan
maksud agar mereka mencium bau harumnya, maka perempuan itu termasuk
golongan perempuan yang berzian dan setiap mata yang memandang itu
melakukan zina (diriwayatkan Ahmad Annasai dan Al Hakim dari Ibnu abu
Musa Al Asy’ari)
Rasulullah
S.A.W bersabda :”Aku melihat di sorga, ternyata sebagian besar isinya
(yakni penghuninya ) adalah golongan orang fakir. Dan aku melihat
neraka ternyata sebagian besar penghuninya kulihat dari golongan orang
perempuan”. (Diriwayatkan oleh Ahmad, Muslim, Turmudzi, dari Anas dan
diriwayat oleh bukhori dan Turmudzi dari Imran bin Hashin) Yang demikian
itu di sebabkan karena, mereka sedikit sekali menaati Allah, menaati
Rasul-NYA dan menaati suaminya. Sebaliknya mereka lebih suka memamerkan
dandannannya (tabaruj).
Dalam
pengertiannya yang di sebut “tabaruj” adalah seorang perempuan apabila
bermaksud keluar rumah mengenakan pakaian yang lebih bagus dan
berdandan mencolok yang tidak biasanya seperti itu. Ia keluar itu dapat
mengganggu kaum lelaki, Kalaupun ia bisa menyelamatkan diri, tetapi
kaum lelaki tidak akan selamat dari sikapnya. Karena itu Nabi Muhammad
S.A.W menngingatkan bahwa, orang perempuan itu segala aurat. Rasulullah
S.A.W bersabda :”Orang perempuan itu segala aurat. Apabila kelluar
rumah maka syetan memperhatikannya terus untuk menyesatkannya. Dan yang
lebih mendekatkan seorang perempuan kepada Allah adalah jika berada di
rumahnya”.
Dalam
Riwayat lain di jelaskan:”Orang perempuan itu segala aurat, maka
pingitlah mereka, Karena manakala seorang perempuan keluar jalan, dan
keluarganya berkata:”hendak kemana kamu.. ?”. Ia menjawab: ”aku hendak
membesuk orang sakit, atau aku hendak mengiringi jenazah, maka tidak
henti hentinya syetan menggodanya hingga ia mengeluarkan lengannya
(yakni ia mengeluarkan sebagian tubuhya). Tidak ada perempuan yang
berusaha memperoleh keridhoan Allah seperti kalau dirinya tinggal di
rumah, menyembah Tuhannya dan meaati suaminya’.
Hatim
Al Asham mengatakan, Wanita sholehah itu menjadi tiangnya agama dan
sebagai pemakmur(yang meramaikan)rumah serta membantu suami melaksanakan
ketaatan pada Allah. Sebaliknya perempuan yang suka melanggar hukum,
dapat menghancurkan hati suaminya dengan tertawa. Abdullah bin ‘umar Ra
mengatakan:”Tanda tanda perempuan yang shalihah adalah, jika mempunyai
kecintaan takut pada Allah dan bersikap qona’ah (menerima apa
adanya)terhadap apa yang di berikan Allah. Ia di hiasi sifat pemurah
terhadap perkara yang di miliki, ibadahnya baik, berbakti pada suami dan
gemar mempersiapkan diri beramal shalih untuk persiapan mati.
BAB 19
DOSA BESAR BAGI ISTERI
Termasuk
dosa besar bagi seorang isteri adalah bila mana keluar rumah tanpa
seijin suaminya. Kendati tujuannya untuk takziyah kepada orang tuanya
yang mati. Tersebut dalam ihya ‘ulumuddin Imam Al Ghozali di katakana
bahwa ada seorang lelaki (suami)hendak bepergian. Sebelum berangkat ia
meminta istrinya agar tidak turun dari tempatnya yang berada di bagian
bangunan tingkat atas. Sementara Orang tuanya berada di tingkat bawah.
Orang tuanya sakit. Perempuan itu mengutus seorang pembantunya menghadap
Rasulullah S.A.W untuk minta izin turun sebentar untuk membesuk orang
tuanya.
Rasulullah
S.A.W bersabda :”Taatilah suamimu. Jangan kau turun. . ”Tidak begitu
lama, orang tuanya mati. IA mengirim utusan menghadap Rasulullah S.A.W
untuk memohonkan izin, agar dirinya dapat menyaksikan jenazah orang
tuanya.
Rasulullah
S.A.W bersabda :”Taatilah suamimu”. Maka orang tuanyapun di kuburkan.
tidak begitu lama Rasulullah S.A.W mengutus seseorang untuk memberi
tahu pada perempuan itu bahwa Allah telah mengampuni dosa dosa rang
tuanya disebabkan ketaatan perempuan itu pada suaminya. FAIDAH Ada
seorang Ibu memberi nasehat pada putrinya, IA berkata peliharalah
sepuluh tingkah ini, niscaya kamu akan menjadi simpanan, Yaitu: Pertama
dan kedua: Mudah menerima keadaan(qona’ah), berbakti dan mentaati
suami.
Ketiga
dan keempat, hendaknya kamu menjadikan dirimu sebagai perempuan yang
selalu didambakan dan dirindukan lantaran tatapan mata dan ciumannya.
Artinya hendaknya kamu jangan sampai dilihat suamimu sebagai perempuan
yang di benci (atau perempuan yang buruk). hendaknya suamimu tidak
pernah berkasih mesra dengan dirimu kecuali dalam keadaan selalu harum
melekat dalam dirimu. Kelima dan keenamnya hendaknya kamu selalu menjadi
perhatian sewaktu suamimu makan dan tidur. Sebab rasa lapar itu mudah
menimbulkan pemberontakan nafsu dan sulit tidur, bahkan mempermudah
tumbuhnya kemarahan.
Ketujuh
dan kedelapannya hendaknya kamu pandai pandai memelihara harta dan
rahasia keluarga suami yang dapat mempermalukan dirinya. Kesembilan dan
kesepuluhnya : Hendaknya kamu jangan menentang perintahnya, dan jangan
suka menyebarkan rahasia suami. Karena kalau kamu menentang perintahnya
akan sangat mudah menimbulkan/meledakkan kemarahannya. Kalau kamu
menyebarluaskan rahasianya berarti kamu tidak dapat di percaya jika dia
sedang tidak ada dirumah. Ingatlah baik baik ingatlah. Sekali sekali
kamu jangan menunjukkan kegembiraan di hadapannya, selagi suamimu sedang
bersedih. Sebaliknya jangan berwajah cemberut selagi suamimu berwajah
berbinar binar lagi gembira.
Rasulullah
S.A.W bersabda : ”Sesungguhnya seorang istri yang keluar rumah
sedangkan suaminya tidak menyukainya maka seluruh malaikat melaknatinya,
demikian pula semua barang yang di lewatinya, selain jin dan manusia.
Sehingga dirinya kembali dan bertaubat.
PAHALA BAGI PEREMPUAN YANG HAMIL
Tersebut
dalam riwayat bahwa NAbi Muhammad S.A.W bersabda : ”Apakah salah
seorang di antara kamu senang, hai kaum isteri, kalau kamu sedang
mengandung dari hasil hubungan dengan suaminya, sementara suaminya
merasa senang. Sesungguhnya perempuaan yang sedang hamil memperoleh
pahala seperti pahalanya orang yang sedang berpuasa sambil perang di
jalan Allah.
Apabila
mencapai puncak sakit mendekati melahirkan semua penduduk langit tidak
ada yang tahu perkara apa yang disamarkan baginya, berupa ketenangan
bathinnya. Apabila telah melahirkan, maka tidak ada tetesan air susu
yang keluar dari susu ibunya dan tidaklah si bayi menghisap air susu
ibunya kecualipada setiap tetesan dan isappan di catat sebagai satu
kebaikkan. Jika di waktu malamnya ia terjaga maka ia memperoleh pahala,
bagaikan pahala memerdekakan tujuh puluh budak yag di merdekakan di
jalan Allah secara ikhlas, (di riwayatkan Hasa bin sufyan dan Tabrani,
ibnu Asakir dari salamah)
Rasulullah
bersabda : ”INNARRAJUULA IDZAA NADZARA ILAAM RA-ATIHII WANADZARAT
ILAIHI NADZARALLAAAHU ILAIHIMAA NADZARA RAHMATIN FAIDZAA AKHADZA
BIKAFFIHAA TASAA QATHAT DZUNUUBUHUMAAA MIN KHILAALIN ASHAABI’IHIMAA”
“Sesungguhnya
seorang suami apabila memperhatikan isterinya dan isterinya balas
memerhatikan suaminya, maka Allah memperhatikan mereka berdua dengan
perhatian penuh rahmat. Manakala suaminya merengkuh telapak tangannya
(diremas remas) maka berguguranlah dosa dosa suami istri itu darisela
sela jari jemarinya. (di riwayatkan maisarah bin Ali dari Ar rafi’i dari
sa’id Al Khudzi Ra)
Diriwayatkan
dari Nabi Muhammad S.A.W bahwa : ”INNARRAJULA LAYUJAMI’U AHLAHU
FAYUKTABU LAHU BIJIMA’IHI AJRU WALADI DZKARIN QAATALA FII SABILILLAAHI
FAQUTILU”. “Sesungguhnya seorang suami yang menggauli istrinya, maka
pergaulannya itu dicatat memperoleh pahala seperti pahalanya anak lelaki
yang berperang di jalan Allah lalu terbunuh(Al hadits)
Ketahuilah bahwa, ada beberapa faktor yang dapat membentuk seseorang anak dekat dengan Allah Antara lain:
1. Sejalan dengan yang di cintai Allah, bahwa putera yang dihasilkan itu di maksud untuk menyambung generasi manusia.
2.
Mencari kecintaan dari Rasulullah S.A.W, maksudnya untuk memperbanyak
(memperbesar) jumalah umatnya Nabi Muhammad S.A.W yang ana besar jumlah
umat itu menyebabkan kebanggaan beliau.
3. Mengharap kelak memperoleh do’a anak yang sholeh setelah kematiannya.
4. Mencari syafa’at dengan kematian anak yang masih berusia anak anak, sebelum kematian dirinya sendiri(orang tua).
BAB 20
PASAL 4
KEHARAMAN KAUM LELAKI MEMANDANG WANITA YANG BUKAN MUHRIMNYA
Dalam
fasal ini dijelaskan tentang diharamkannya kaum lelaki memandang kaum
wanita yang bukan muhrimnya. Begitu pula sebaliknya, yakni keharaman
kaum wanita memperhatikan kaum lelakiyang bukan muhrimnya.
Tersebut
dalam firman Allah dalam surat Al ahzab, : “WA IDZAA SAALTUMUU HUNNA
MATAA’AN FAS ALUU HUNNA MIWWARAA I HIJAABIN DZAALIKUM ATH HARU
LIQULUUBIKUM WAQULUU BIHINNA” “Apa bila kamu meminta sesuatu kepada
mereka maka mintalah dari belakangtabir. Cara yang demikian itu lebih
suci bagi hatimu dan bagi hati mereka”.
Dalam
surat An Nuur ayat 30 di jelaskan: “QUL LILMU-MINIINA YAGHUDHDHUU MIN
ABSHAARIHIM WAYAHFADZUU FURUUJAHUM DZAALIKAADZKAA LAHUM INNALLAAHA
KHAIRUMBIMAA YASHNA’UUNA” “Katakanlah kepada orang laki-lakiyang beriman
:”Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya.
Yang demikian itu lebih suci begi mereka”; SesungguhnyaAllah maha
mengetahui apa yang mereka perbuat”.
Rasulullah
S.A.W bersabda: ”Pandangan mata itu merupakan panah beracun dari panah
Iblis. Barang siapa meninggalkannya karena takut Allah S.W.T, maka
Allah memberinya keimanan yang mana ia akan memperoleh kemanisannya
didalam hati”.
Nabi
Isa as bersabda:”IYYAAKUM WANNADZARA FA INNAHAA TUZRI’U FILQOLBI
SYAHWATAN WAKAFAA BIHAA FITNATAN” “Takutlah kamu. peliharalah dirimu
dari memperhatikan. Karena sesungguhnya memperhatikan itu menumbuhkan
syahwat di dalam hati. Dan cukuplah syahwat itu menjadi fitnah”.
Sa’ad
bin jubair mengatakan hanyalah fitnah yang menimpa Nabi Daud As adalah
di sebabkan pandangan beliau. Nabi Daud bersabda kepada putera beliau
Nabi Sulaiman As, lebih baik berjalanlah di belakang macan dan Harimau,
janganlah berjalan di belakang perempuan.
Mujahid
mengatakan, apabila seorang perempuan mengahadap ke muka maka Iblis
duduk di bagian kepalanya. Lalu Iblismemperindah diri perempuan itu yang
di peruntukkan bagi orang yang memperhatikannya. Kalau seorang
perempuen bernalik menghadap kebelakang maka Iblis duduk di pantatnya.
Lalu Iblis memperindah perempuan itu yang di peruntukkan bagi orang yang
memperhatikannya.
Seorang
bertanya kepada Nabi Isa As, Apa permulaan yang menyebabkan orang
berzina?. Beliau bersabda :Yaitu akibat memperhatikan perempuan dan
memperhatikan dirinya. Al Fudhail mengatakan, Iblis berkata bahwa
pandangan yang di lepaskan pada suatu perkara yang tidak halal itu
adalah merupakan panahku yang sudah tua dan busurku yang tak pernah
luput jika aku pergunakan.
Tersebut dalam sya’ir:
Segala sesuatu yang baru terjadi
Permulaannya dari pandangan
Nyala api yang besar
Permulaannya dari pelatuk yang kecil
Orang yang mempermainkan mata
Sangat di khawatirkan akibatnya
Berapa banyak pandangan
Yang masuk dan bekerja dalam hati
Bagaikan anak panah yang dilepas busur dan tali
Orang yang memperhatikan
Perkara yang membahayakan
Akan menyenangakan orang yang mempunyai kekhawatiran
Tetapi kalau akhirnya mencelakakan
Itu tidak membahayakan
Ummu
salamah Ra mengatakan bahwa Ibnu Ummi maktum meminta izin kepada
Rasulullah S.A.W. Saat itu aku dam maimunah Ra duduk bersama, maka
Rasulullah bersabda: ”Bertakbirlah kalian “. Kami menimpali:”Bukankah
dia orang buta yang tidak dapat memandang kami?”. Rasulullah
bersabda:”Apa kalian tidak dapat melihatnya juga ?”. Rasulullah S.A.W
mengingatkan : ”LA’ANALLAAHUNNAADZIRA WALMANDZUURA ILAIHI” “Allah
melaknat orang yang dipandang dan orang yang dipandangi (membalas
pandangan).
Bagi
perempuan yang beriman pada Allah, tidak dibenarkan memperlihatkan
diri pada setiap orang asing, karena yang tidak terikat oleh pernikahan
atau muhrim karena nasab atau sesusuan. Demikian pula orang lelaki
tidak dibenarkan memperhatikan kaum wanita, sebaliknya kaum wanita
balas memperhatikan pandangannya. Sebagaimana kaum lelaki menundukkan
pandangannya kepada kaum wanita, maka menjadi kewajiban pula kaum wanita
menundukkan pandangan mata terhadap kaum lelaki. Pendapat itu
sebagaimana di tekankan oleh Ibnu Hajar dalam kitab AZ ZAWAJIR.
Tidak
pula diperbolehkan lelaki bermusafahah(bersalaman) dengan perempuan
yang bukan muhrim. Larangan ini berlaku juga pada perbuatan
salingmemberikan. Sebab itu perkara yang di haramkan memandangnya
diharamkan pula memegangnya. Mengingat dengan cara memegangnya itu ia
dapat merasakan kelezatan. Hal ini didasarkan pada dalil bahwa, kalau
orang berpuasa lalu berpegangan dengan lawan jenisnya yang menyebabkan
inzal(keluar mani), maka puasanya batal. Tetapi kalau keluarnya mani
disebabkan oleh pandangan, puasanya tidak batal. Demikian menurut
penjelasan kitab An Nihayah.
Diriwayatkan
oleh Thabrani di dalam kitab Al Kabir dari mu’qal bin Yasar bahwa,
salah seorang di antaramu yang di lukai kepalanya oleh jarum, itu lebih
baik dari pada memegang perempuan yang tidak dihalalkan untuknya.
Rasulullah
S.A.W memperingatkan : ”ITTAQUU FITNATADDUN-YAA WAFITNA-TANNISAA
FA-INNA AWWALA FITNATI BANII ISRA-IILA KAATAT MINQIBA-LINNISAA. ”
“Takutlah kalian terhadap fitnah dunia dan fitnah kaum wanita. Sebab
permulaan fitnah yang menimpa bani isra-il itu adalah kaum wanita”.
Rasulullah
S.A.W bersabda:”WAMAA TARAKTU BA’DII FITNATAN ADHARRU ‘ALARRIJAALI
MINANNISAA”. (al hadits) “Dan setelah masaku tidak ada fitnah yang lebih
membahayakan terhadap kaum lelaki ketimbang fitnah akibat perempuan”.
BAB 21
LARANGAN BERDUAAN DI TEMPAT YANG SUNYI
Tersebut
dalam riwayat bahwa Rasulullah S.A.W bersabda : ”Takutlah kamu dari
menyepi (berduaan) dengan perempuan. Demi Dzat yang diriku berada dalam
kekuasaanNYA, tidaklah orang lelaki yang menyepi ber sama dengan orang
perempuan (yakni berpacaran), kecuali syethan menyusup di antara mereka
berdua. Sungguh seorang yang berdesak desakkan dengan babi yang
berlepotan lumpur itu jauh lebih baik dari pada berdesak
desakkan(bersenggolan)dengan pundak perempuan yang tidak halal baginya”.
Rasulullah
S.A.W bersabda:”Orang perempuan itu merupakan jerat-jeratnya syethan
(yakni perangkapnya), dan kalaulah bukan karena syahwat, tentu kaum
wanita tidak akan menguasai (menundukkan) kaum lelaki”. (al hadits) Ada
pepatah mengatakan “IDZAA QAAMA DZAKARUR RAJULI DZAHABA TSULUUTSA
‘AQLIHI”Apabila kelamin lelaki bangkit maka hilanglah sepertiga
akalnya”.
KEWAJIBAN PEREMPUAN JIKA KELUAR
Kalaulah
perempuan bermaksud keluar rumah, ia berkewajiban menutup seluruh
tubuhnya tampa kecuali termasuk kedua tangannya dari perhatian orang
banyak. Tidak hanya itu bahkan hendaknya ia menyamarkan diri dari
perhatian orang yang mungkin mengenalnya. Jika seseorang kawan suaminya
berkunjung, sementara suaminya tidak ada di rumah, hendaknya dia tidak
perlu bertanya panjang lebar. Hal itu di maksud untuk memelihara diri
dan suaminya. Demikian yang diungkapkan Imam Ghazali dan beberapa imam
lainnya.
Rasulullah
S.A.W bersabda:”Sudah menjadi ketentuan bagi manusia bahwa bagian
bagian dari tubuhnya melakukan zina, hal itupasti did lakukan. Kedua
mata zinanya memandang, Kedua telinga zinanya mendengar, lisan zinanya
berbicara. Kedua tangan zinanya memaksa, kedua kaki zinanya berjalan,
dan hati zinanya menyenangi dan mengharap harap. Semmua itu di benarkan
oleh kelamin atau di dustakannya”. (riwayat Muslim dari Abu Hurairah)
Rasulullah S.A.W bersabda : ”Perkara apakah yang lebih baik bagi kaum
wanita?. Fathimah menjawab : ”Hendaknya ia tidak memandang kaum lelaki
dan lelaki tidak memandanginya. Kemudian Rasulullah S.A.W merangkul
Fathimah dna beliau bersabda:”Anak turun sebagian manusia dari sebagian
yang lain hendaknya saling menolong. Rasulullah S.A.W, merasa terharu
atas pendapat puterinya itu”.
PERILAKU KAUM WANITA DEWASA INI
Ketahuilah
bahwa sebagian besar wanita dewasa ini telah kena penyakit suka
memperlilhatkan dandanannya secara berlebihan kepada kaum lelaki. Mereka
sedikit sekali mempunyai rasa malu. Kalau berjalan mereka suka membuat
buat, dengan melenggak lenggokkan pinggulnya. Kenyataaan itu sering
mereka perlihatkan di muka golongan kaum lelaki, baik sewaktu di pasar
atau bahkan ketika berjalan menuju masjid. terutama di waktu siang atau
malam hari di bawah cahaya lampu.
Ada
yang mengatakan bahwa, apabila seorang perempuan perilakunya menyimpan
tiga perkara ini maka di namakan Qahbah(semacam biduan) yang sangat
buruk. Pertama, kalau perempuan itu keluar rumah diwaktu siang hari
dengan mengenakan dandanan yang berlebihan untuk di pamerkan kepada kaum
lelaki secara umum. Kedua, perempuan yang mempunyai kebiasaan
meperhatikan kaum lelaki lain. Ketiga, perempuan yang gemar
memperdengarkan suaranya di telinga orang lain, sekalipun perempuan itu
tergolong bisa menjaga kehormatannya. Karena dengan begitu dirinya
mempersamakan dengan perempuan yang tidak baik.Tentang mempersamakan
(penyerupaan itu) Rasulullah S.A.W memperingatkan : ”MANTASABBAHA
BIQAUMIN FAHUWA MINHU” “Barang siapa yang membuat penyerupaan dengan
suatu kaum maka dia termasuk golongan mereka”.
Orang
yang menyerupakan dirinya sebagai golongan orang shalih (maksudnya
bergaul dengan mereka), niscaya akan ikut di hormati, sebagaimana orang
yang shalih itu menerima penghormatan. Sebaliknya orang yang bergaul
dengan orang orang yang fasik, niscaya akan menjadi sasaran cercaan.
Yang berarti tidak akan dihormati oleh orang lain. Perempuan hendaknya
membersihkan diri dan memperhias perangainya dengan sikap pemalu. Jangan
sampai seorang perempuan berperangai yang menyebabkan dirinya
memperoleh predikat “Quhbah”.
Maka
alangkah baiknya bagi perempuan yang mempunyairasa takut keada Allah
dan rasul-NYA, serta bagi orang orang yang mempunyai budi pekerti yang
tinggi, supaya mencegah isterinya(atau anak perempuannya)keluar rumah
dengan dandanan yang mencolok. larangan keluar rumah itu memang tidak
mutlak tanpa ada pengecualian dalam suatu waktu. Setidaknya Rasulullah
S.A.W memberi kelonggaran kepada kaum wanita pada hari raya. Di hari
raya itu, kaum wanita yang dapat menjaga kehormatannya di beri izin
keluar rumah, setelah mendapat keridhoan suaminya. Tetapi berdiam diri
tinggal di rumah itu lebih menyelamatkan diri dari godaan.
Hendaknya
seorang perempuan jangan kemana-mana. Jangan keluar rumah kecuali ada
keperluan yang mendesak. Kalau keluar rumah hendaknya menundukkan
pandangannya dari kaum lelaki. Memang kami tidak mengatakan bahwa wajah
lelaki menurut haknya adalah aurat, sebagaimana wajah perempuan menurut
haknya. Tetapi wajah anak lelaki itu seperti wajah anak lelaki yang
tampan. Orang di haramkan memperhatikan wajah anak lelaki yang tampan,
jika dikhawatirkan timbulnya fitnah. Hanya itu. Kalau tidak
mengkhawatirkan terjadinya fitnah tidak di haramkan. Sebab, sejak semula
tidak ada perintah kepada kaum lelaki untuk menutup wajah. Sebagaimana
perintah yang di tekankan kepada kaum wanita supaya menutup wajahnya.
Sekiranya wajah kaum lelaki itu termasuk auratnya dalam pandangan kaum
perempuan niscaya mereka di perintah untuk menutup wajahnya, atau
bahkan dilarang keluar rumah kecuali ada kebutuhan yang mendesak.
Bagi
kaum lelaki yang mempunyai tangggung jawab dalam rumahtangganya,
berkewajiban untuk menjaga orang orang perempuan yang berada di bawah
kekuasaanya. Terutama dizaman sekarang. Jangan sampai memberi
kelonggaran kepada mereka yang memungkinkan mereka melakukan
pelanggaran. Hendaknya mereka tidak diberi izin keluar rumah, kecuali
dimalam hari beserta muhrimnya, atau dengan perempuan lainnya yang dapat
di percaya. Pembantu saja belum cukup di percaya, jika tidak disertai
perempuan yang lain yang lebih dapat dipercaya. Sebab kelurusan amanat
yang di berikan kepada pembantu sangat jarang dilaksanakan.
Dalam
sejarah, dimasa jahilliyah ada seeorang perempuan anak Taimilah bin
tsa’labah bekerja sebagai penjual samin. Suatu ketika Khawat bin Jubair
Al Anshari datang untuk membeli minyak samin. lalu mereka terlibat
tawar menawar. Perempuan itu membuka tali penutup wadah yang penuh
berisi samin.
Khawwat
berkata:”Pegangi wadah ini, aku hendak melihat lihat wajah yang lain”.
Lalu Khawaat membuka wadah yang lain. Setelah dilihat, Ia berkata
:”Pegagi Wadah ini”.
Ketika
perempuan itu sedang terlena dengan wadah wadah samin yang di
peganginya. tanpa terduga Khawat menubruk dirinya lalu berbuat yang
tidak senonoh hingga terlampiaskan keinginannya. Setelah melakukan
perbuatan itu Khawwat lari dan masuk Islam. Ia ikut perang badar. Suatu
hari Rasulullah S.A.W berkata kepadanya :”Hai khawwat, bagaimana
ceritanya ketika membeli samin”, Rasulullah S.A.W tersenyum. Khawwat
menjawab:”Wahai Rasulullah benar benar Allah telah melimpahkan rezki
pada saya, Rizki yang baik. Sekarang aku berlindung kepada Allah dari
kekurangan setelah mengalami penambahan”.
BAB 22
HIKAYAT
Ada
sebuah keluarga yang sangat terpandang. Suatu hari keluarga itu
membeli seorang pembantu (budak) yang berkebangsaan hindi(Hindia).
Keluarga itu terus merawatnya dan akhirnya di ambil sebagai anak.
Setelah dewasa, ia jatuh cinta pada tuan puterinya, yang ketika itu
telah menjadi ibu angkatnya sendiri. Ia terus menerus menggoda ibu
angkatnya, dan ibunyapun melayani. Hingga suatu hari terjadilah
hubungan layaknya hubungan suami istri.
Ketika
pembantu itu sedang asyik di atas dada ibu angkatnya, Tiba tiba ayah
angkatnya datang. Ia marah. Ia segera mengambil pisau, lalu di potongnya
kelamin anak angkatnya itu. Namun pada akhirnya Ia menyesal. Ia
membawanya ketabib untukdi obati. Setelah sembuh si anak angkat itu
tidak di usir. Ia tetap diberi kesempatan tinggal di rumah orang tuanya
yang telah menjadi orang tua angkatnya, tetapi secara diam diam ia (
anak angkat ) itu mendendam, Ia menunggu datangnya kesempatan untuk
melakukan pembalasan.
Keluarga
yang sangat terpandang itu sebenarnya mempunyai dua anak yang sangat
tampan. Salah satunya masih berusia anak-anak sedang yang lainnya
mendekati remaja. Suatu hari kedua anak itu hilang dibawa pembantunya
yang telah di angkat menjadi anaknya. Tanpa diketahui keduanya dibawa
naik ke atas loteng. Disana keduanya diajak bermain-main, diperlakukan
secara baik hingga tak ada kesan di sandera.
Hingga
manakala orang tuanya telah kebingungan mencari, tanpa sengaja ia
mendongak keloteng. Disana anak-anak disandera anak hindi tadi. Ia
berteriak “Celaka benar Kau. Apakah engkau menghendaki kematian kedua
anakku?”
Bekas
pembantunya menjawab:”Ya benar, Kedua anakmu mesti akan mati kalau Kau
tidak menuruti perintahku”. ”Apa kemauanmu?”, tanya orang yang
terpandang itu. ”Aku menghendaki supaya kamu memotong kelaminmu
sendiri”. Demi mendengar permintaan itu, Ia terperanjat bukan kepalang,
katanya, ”Takutlah kepada Allah, takutlah kamu. Bukankah dirimu telah
kupelihara. Hentikan perbuatan jahatmu itu”. Ia terus mengulang -ulang
permintaanya. Namun anak hindi itu tidak ambil peduli.
Ketika
tuannya akan naik keatas loteng, sianak Hindi itu menyeret kedua
anaknya dibawa kepinggir loteng. Lelaki yang malang itu berteriak,
”Celaka benar kamu !Tunggu sebentar. tentu aku akan menuruti
tuntutanmu”. Ia pergi sebentar lalu datang dengan membawa pisau. tanpa
di minta lagi kelaminnya di potongnya sendiri di depan mata si anak
Hindi. setelah puas menyaksikan dendamnya, si anak Hindi itupun
mencampakkan kedua anak bekas majikannya itu hingga tewas seketika. Apa
katanya. ”Tuntutan memotong kelamin sendiri itu adalah sebagai
pembalasan atas perbuatanmu tempo hari memotong kelaminku. Dan kematian
kedua anakmu itu sebagai tambahan atas kerugianku”.
Memperhatikan
kisah tersebut, dapat di ambil pelajaran bahwa, bilamana pembantu
telah memasuki usia baligh hendaknya dilarang masuk kamar majikannya.
Sebab pada umumnya godaan mulai terjadi setelah memasuki usia itu.
Disamping menjaga keturunan itu termasuk perkara terpenting.
KECEMBURUAN
Rasulullah
S.A.W bersabda : ”INNII LAGHAAYUURUN WAMAA MINIMRI-IN LAA
YAGHAARUILLAA MANKUUSUL QALBI” Sesungguhnya aku ini pecemburu. setiap
orang yang tidak mempunyai rasa pecemburu, maka tidak lain kecuali
orang itu berhati terbalik” (Al hadits) Rasulullah S.A.W
bersabda:”Sesungguhnya Allah S.W.T itu pecemburu, dan orang mukmin itu
hendaknya pecemburu. Kecemburuan Allah adalah jika ada orang mukmin
yang melakukan prbuatan yang diharamkan oleh Allah. (Diriwayatkan oleh
Ahmad, bukhari, muslim dan turmudzi dari abu hurairah) Imam Ali Ra
mengatakan, ”Apakah kalian tidak malu. Apa kalian tidak cemburu
membiarkan perempuan-perempuan(istri-istri)mu keluar ketengah tengah
kaum lelaki. Ia melihatnya dan mereka memperhatikan dirinya”.
Sebaliknya
cemburu yang berlebihan juga tidak baik. Imam Ali Ra mengatakan hal
itu, ”Janganlah kamu berlebihan mencemburu. Sebab dengan kecemburuan
yang berlebihan itu sama artinya menuduh istrimu berbuat buruk”.
Rasulullah
S.A.W bersabda : ”Sesungguhnya di antara kecemburuan ada yang di
cintai Allah dan ada pula kecemburuan yang di benci Allah. Di antara
sikap berbangga diri ada yang di sukai Allah dan ada pula sikap
berbangga diri yang di murkai Allah. Adapun kecemburuan yang di sukai
Allah adalah kecemburuan (Dalam hal keragu-raguan). Kecemburuan yang di
benci Allah adalah kecemburuan di luar hal itu. Adapun sikap berbangga
diri yang di sukai Allah adalah keberbanggaan seseorang ketika maju
kemedan pertempuran di saat terjadinya bencana. Sikap keberbanggaan
yang dibenci Allah adalah dalam hal kebatilan”.
Di
Era globalisasi dewasa ini, kalau ada perempuan keluar rumah maka
hampir di pastikan menjadi sasaran godaan kaum lelaki. Mungkin dengan
cara mengedipkan matanya atau disentuh. Ada pula yang sekedar di pegang
dan ada pula yang disindir dengan kata kata yang jorok yang tidak
mengenakan telinganya.
Yang
terakhir itu tentu saja khusus bagi orang baik-baik dan orang sholehah
serta selalu menjaga kehormatannya. Ibnu Hajar mengatakan, jika
seorang perempuan (istri)bermaksud hendak keluar untuk menjenguk orang
tua, misalnya, sebenarnya tidak dilarang. Tetapi terlebih dulu harus
memperoleh izin dari suaminya. yang perlu diperhatikan pula,
hendaknyaketika keluar jangan memamerkan perhiasan dan dandanannya.
Sebaiknya bahkan dirinya dianjurkan agar berdandan sebagaimana seorang
pelayan yang kotor tubuhnya.
Pakaian
yang dikenakannya tidak perlu bagus, melainkan pakaian yang sederhana.
Pandangan hendaknya dijaga, di tundukkan sepanjang jalan. Tidak perlu
tengok kanan dan kiri. Kalau tidak begitu justru akan membuka
kesempatan untuk melakukan kemaksiatan kepada Allah, Rasul-NYA dan
kemaksiatan kepada suaminya.
BAB 23
KISAH
Dikisahkan
ada seorang perempuan yang gemar memamerkan dandanannya di depan kaum
lelaki. Ia mati. Hingga suatu malam di antara saudaranya ada yang
bermimpi melihat dirinya di hadirkan kehadapan Allah dengan mengenakan
busana yang sangat tipis. Saat itu angin bertiup menerpa busananya,
tersingkaplah busananya. Allah berpaling tidak sudi memperhatikannya.
Allah berfirman:”Seret dia ke NERAKA …!!! Sesungguhnya perempuan itu
termasuk orang yang suka memamerkan dandanannya sewaktu di dunia.
Ketika
suami rabi’ah Adawiyah mati, beberapa waktu kemudian Hasan Al Basri
dan kawan kawannya datang menghadap Rabi’ah. Mereka meminta izin di
perkenankan masuk, mereka di perkenankan masuk. Rabi’ah segera
mengenakan cadarnya, dan mengambil tempat duduk di balik tabir. Hasan
AlBasri mewakili kawan kawannya mengutarakan maksud kedatangannya. Ia
berkata : ”Suamimu telah tiada, sekarang Kau sendirian. Kalau kmu
menghendaki silahkan memilih salah seorang dari kami. Mereka ini orang
orang yang ahli zuhud”. Jawab Rabi’ah Adawiyah:”ya, aku suka saja
mendapat kemuliyaan ini. Namun aku hendak menguji kalian, siapa yang
paling ‘alim(pandai) diantara kalian itulah yang menjadi suamiku”.
Hasan
Al Basri dan kawan kawannya menyanggupi. Kemudian Rabi’ah Adawiyah
bertanya: ”Jawablah empat pertanyaanku ini kalau bisa aku siap di
peristri oleh kamu”. Hasan Al Basri berkata :”Silahkan bertanya, kalau
Allah memberi pertolongan aku mampu menjawab tentu aku jawab”.
“Bagaimana pendapatmu kalau aku mati kelak, kematianku dalam muslim
(husnul khatimah) atau dalam keadaan kafir(suul khatimah)”. kata Rabi’ah
bertanya. Jawab Hasan Al basri : ”Yang kau tanyakan itu hal yang
ghaib, mana aku tahu. . ”. “Bagaimana pendapatmu, kalau nanti aku sudah
di masukkan kedalam kubur dan mungkar-nakir bertanya kepadaku, apakah
aku sanggup menjawab atau tidak. . ” “Itu persoalan ghaib lagi”. Jawab
Hasan Al Basri.“Kalau seluruh manusia di giring di MAUQIF (padang
mahsyar) pada hari kiamat kelak, dan buku buku catatan amal yang
dilakukan oleh malaikat HAFAZHAH beterbangan dari tempat penyimpanannya
di bawah ‘arsy. Kemudian buku buku catatan itu di berikan kepada
pemiliknya. Sebagian ada yang melalui tangan kanan saat menerima dan
sebagian lagi ada yang lewat tangan kiri dalam menerimanya. Apakah aku
termasuk orang yang menerimanya dengan tangan kanan atau tangan kiri. .
?, tanya Rabi’ah. “Lagi lagi yang kau tanyakan hal yang ghaib”, jawab
Hasan Al Basri. Tanya Rabi’ah sekali lagi:”Manakala pada hari kiamat
terdengar pengumuman bahwa, sebagian manusia masuk surga dan sebagian
yang lain masuk neraka, apakah aku termasuk ahli syurga atau ahli
neraka. . ?”. “Pertanyaanmu yang ini juga termasuk persoalan yang
ghaib”, jawab Hasan Al basri. Rabi’ah berkata :”Bagaimana orang yang
mempunyai perhatian kuat terhadap empat persoalan itu masih sempat
mamikirkan nikah. . ?”. Coba perhatikanlah kisah dialog tersebut.
Betapa besar perasaan takut Rabi’ah Adawiyah terhadap persoalan itu.
Kendati ia seorang sholehah. namun masih diikuti perasaan takut yang
luar biasa jika akhir hayatnya tidak baik.
Diceritakan
bahwa, Rabi’ah Adawiyah itu mempunyai tingkah laku yang berubah ubah.
Suatu ketika perasaan cintanya kepada Allah begitu berat, hingga ia
tidak sempat lagi berbuat apa-apa. Diwaktu lain ia kelihatan tenang
nampak seperti tidak ada masalah, dan lain waktu ia kelihatan sangat
takut dan cemas.
Suaminya
menceritakan, suatu hari aku duduk sambil menikmati makanan. Sementara
ia duduk di sampingku dalam keadaan termenung lantaran di hantui
peristiwa kiamat. Aku berkata :”Biarkan aku sendirian menikmati makanan
ini”. Ia menjawab aku dan dirimu itu bukanlah termasuk orang yang
dibuat susah dalam menyantap makanan, lantaran mengingat akherat”.
Lebih lanjut Ia berkata:”Demi Allah, sesungguhnya bukanlah aku
mencintaimu seperti kecintaannya orang yang bersuami istri pada
umumnya. Hanyalah kecintaanku padamu sebagaimana kecintaan orang yang
bersahabat”. Kalau Rabi’ah Adawiyah memasak makanan, Ia
berkata:”Majikanku, makanlah masakan itu. Karena tidak patut bagi
badanku kecuali membaca tasbih saja”. (yang di maksud majikan adalah
suami dari Rabi’ah Adawiyah sendiri).
Hingga
suatu hari Rabi’ah berkata pada suaminya:”Tinggalkan diriku, silahkan
kamu menikah lagi”. Hal itu dikatakan ketika suaminya masih hidup. Maka
Aku (suaminya)pun menikah lagi dengan tiga orang perempuan. Saat itu
Rabi’ah masih setia melayani keperluan suaminya, termasuk memasakkan
makanan. Suatu hari Rabi’ah Adawiyah memasakkan daging untuk suaminya,
Ia berkata:”Tinggalkanlah diriku dengan membawa kekuatan yang baru
menujuistri-istrimu yang lain”.
Dikisahkan
bahwa Rabi’ah Adawiyah juga mempunyai sahabat sahabat yang lain dari
bangsa jin, yang sanggup mendatangkan apa saja yang di kehendakinya.
Wali perempuan ini dalam kehidupannya dikenal pula mempunyai berbagai
kekeramatan hingga wafatnya. Di antara kekeramatannya adalah bahwa pada
suatu malam ada pencuri masuk menjarahi isi rumahnya. Ia sendiri masih
terlelap tidur. Ketika pencuri itu hendak keluar dengan menjinjing
barang-barang yang telah di kemasi, mendadak pintu rumahnya hilang
semua. Pencuri itu lalu duduk disamping pintu yang di pandang semula
belum lenyap. Tiba tiba saat itu terdengar suara halus
menyapanya:”Letaakkan barang -barang yanga kau kemasi. Keluarlah dari
pintu ini”.
Ia
pun segera meletakkan barang-barang yang telah dikemasi. Mendadak
pintu itu kelihatan lagi. Begitu ia melihat pintu maka ia segera
menyambar lagi barang-barang hasil curian tadi. Tiba-tiba pintu itu
hilang lagi seketika ia letakkan lagi barang hasil jarahannya. Pintu
kelihatan lagi. Ia mengambil kembali barang haasil jarahannya. Pintu
hilang lagi. Dan begitu seterusnya. Tiba-tiba terdengar lagi suara
lembut menyapa :”Kalau Rabi’ah adawiyah tertidur, Tetapi Allah tidak
tertidur dan tidak pula terserang rasa kantuk”, maka ia pun sadar.
barang barang yang di kemasinya pun Ia tinggalkan, lalu ia pun keluar
melalui pintu tadi.
BAB 24
TANDA-TANDA ISTRI YANG SHALEHAH
Diantara
tanda-tanda istri yang shalehah adalah, bilamana ia melakukan
kesalahan terhadap suaminya, ia menyesal sekali dan segera meminta maaf
dan memohon keridhoannya. Kesalahan itu ia sesali dan ia tangisi
sepanjang hari, karena takut mendapat siksa dari Allah.
Tanda-tanda
yang lain adalah misalnya, ia melihat suaminya sedang diliputi
perasaan duka dan sedih, Maka ia menghibur, ”Kalau yang kamu sedihkan
berhubungan dengan urusan akherat, sesungguhnya hal itu sangat
menguntungkan bagimu, tetapi jika yang kau sedihkan berhubungan dengan
urusan dunia, sama sekali aku tidak membebanimu dengan perkara yang
berat.
K I S A H
Dikisahkan
bahwa Rabi’ah binti Isma’il Asy Syamsiah, Seorang istri Ahmad bin Abu
Al huwari, suatu hari memasak makanan yang enak. Masakan itu di beri
campuran aroma yang harum. Suami Rabi’ah juga mempunyai istri yang lain.
Setelah masak dan menyantap makanan itu, Rabi’ah berkata pada
suaminya:”pergilah kamu keistri yang lain dengan tenaga yang baru”.
Rabi’ah
yang satu ini memang mirip dengan rabi’ah Adawiyah yang berdomisili di
bashrah. Rabi’ah Asy Syamsiah ini setelah menunaikan shalat ‘isya ia
berdandan lengkap dengan busananya. Setelah itu baru mendekati tempat
tidur suaminya. Ia tawarkan pada suaminya, ”Apakah malam ini kamu
membutuhkan kehadiranku atau tidak”. Jika suaminya sedang berhasrat
untuk menggaulinya, maka ia melayaninya hingga puas. kalau malam itu
suaminya sedang tidak berminat menggaulinya, maka ia menukar pakaian
yang ia kenakan tadi dan berganti dengan pakaian lain yang di gunakan
untuk beribadah. malam itu ia tenggelam di tempat shalatnya hingga
subuh. Rabi’ah binti Isma’il Asy Syamsiah bersuamikan Ahmad bin Abu
huwar itu memang dikehendaki Rabi’ah sendiri. Ia pula yang pertama-tama
melamar syeikh Ahmad supaya berkenan memperistri dirinya.
Ceritanya
demikian, Rabi’ah binti Ismail itu semula mempunyai suami yang kaya.
Setelah kematiannyaIa memperoleh harta waris yang sangat besar. Ia
kesulitan menafkahkan harta itu, Mengingat ia seorang perempuan yang
terbata gerakannya. maka ia bermaksud melamar syeikh Ahmad, dengan
tujuan agar dapat menasarufkan (menghibahkan) hartanya demi kepentingan
islam dan di berikan kepada orang orang yang membutuhkan. Yang
deemikian itu karena Rabi’ah binti Ismail memandang syeikh Ahmad
sebagai orang yang dapat menjalankan amanat, sedang Rabi’ah sendiri
seorang yang adil.
Ketika
mendapat lamaran dari Rabi’ah syeikh Ahmad berkat :”Demi Allah,
sesungguhnya aku tidak berminat lagi untuk menikah. Sebab aku ingin
berkonsentrasi untuk beribadah”.
Rabi’ah
menjawab :”Syeikh Ahmad, sesungguhnnya kosentrasiku dalam beribadah
adalah lebih tinggi dari pada kamu. Aku sendiri sudah memutuskan untuk
tidak menikah lagi. tetapi tujuanku menikah kali ini tidak lain adalah
agar dapat menasarufkan harta kekayaan yang kumiliki kepada
saudarasaudara yang muslim, Dan untuk kepentingan islam sendiri. Akupun
mengerti bahwa engkau itu orang yang shalih, tapi justru dengan begitu
aku akan memperoleh keridhoan dari Allah S.W.T”.
Syeikh
Ahmad berkata :”Baiklah, tapi aku minta waktu, Aku hendak meminta izin
dari Guruku”. Lalu syeikh Ahmad mengahadap gurunya, yakni Syeikh Abu
Sulaiman AD Darani. Sebab gurunya itu dulu pernah melarang dirinya untuk
menikah lagi. Katanya:”Setiap orang yang menikah, sedikit atau banyak
pasti akan terjadi perobahan atas dirinya”.
Tetapi
setelah Abu Sulaiman mendapat penjelasan dari muridnya mengenai
rencana Rabi’ah, ia berkata:”kalau begitu Nikahilah Ia. Karena
perempuan itu seorang wali”.
Kisah
kisah yang serupa seperti kisah Rabi’ah Adawiyah itu sesunggguhnya
cukup banyak. lazimnya terjadi pada masa lalu, tetapi untuk masa
sekarang, hampir tidak pernah di jumpai, adanya seorang wanita yang
bertingkah baik seperti mereka.
KISAH
Di
kisahkan ada seorang pandai besi yang mempunyai keajaiban luar biasa.
kalau ia memanggang besi didalam bara api tangannya tidak kepanasan
sekalipun saat mengambilnya menggunakan tangannya secara telanjang.
Ketika itu ada seorang yang tergerak hatinya bermaksud menyaksikan
keajaiban itu. Apakah benar ataukah sekedar berita bohong. Hingga suatu
hari orang tersebut datang kerumah si pandai besi. Ia bertanya tentang
berita itu. Setelah melihat sendiri Ia memandangi dengan penuh
kekaguman. Setelah pandai besi itu menyelesaikan pekerjaannya, lelaki
tadi memberi salam. pandai besi menjawab. Lalu kata lelaki tadi:”Malam
ini aku menjadi tamumu, kamu tidak keberatan bukan?’
Sipandai
besi menjawab:”Dengan suka hati aku menerima kehadiranmu”. Lelaki tadi
diajak masuk kerumah. hingga setelah makan malam tiba ia disuguhi
makan malam. Selesai makan hingga menjelang tidur lelaki itu tidak
menjumpai suatu kelebihan di lakukan si pandai besi. Ibadah fardunya
hanya seperti itu. Ia tidur malah hingga subuh. Dalam hati ia berkata:
”Barangkali malam ini ia sengaja merahasiakan ibadahnya”. Lelaki tadi
meminta izin agar di perbolehkan bermalam untuk yang kedua kalinya. Ia
mencoba memperhatikan amaliyahnya. Ternyata tidak ada kelebihannya
dalam menjalankan kewajiban dan kesunahan beribadah.
Akhirnya
lelaki itu berkata : ”Sudah seringkali aku mendengar, betapa besar
Allah memuliakan dirimu. Kebetulan aku sendiri juga menyaksikan
kekeramatanmu itu. Tetapi setelah aku perhatikan secara lahiriyah
ternyata tidak ada kelebihan yang aku jumpai dalam ibadah fardu atau
sunnahmu. Kalau begitu dari manakah tingkatan itu kamu peroleh?”.
Sipandai besi itu menjawab :”Saudaraku, sesungguhnya akukisah yang
sangat menarik. ceritanya begini, Aku bertetangga dengan seorang
perempuan yang sangat cantik sekali. Aku cinta sekali padanya. Setiap
saat aku menggoda dan merayunya supaya mau memenuhi keinginanku. Namun
sejauh itu aku tidak dapat menundukkan dirinya. Rupanya Ia perempuan
ahli wara’ yang sangat bagus segalanya.
Bulan
demi bulan terus bergulir, hingga tibalah masa paceklik, makanan sulit
diperoleh. Kelaparan merata dimana-mana. Suatu hari ketika aku sedang
menikmati udara dirumah, tiba-tiba pintu rumahku diketuk oleh
seseorang. Aku keluar utuk melihat siapa yang datang. ternyata
perempuan yang cantik itu yang datang. Ia berdiri didepan pintu,
katanya:”Tuan aku ini sedang kelaparan, Apa ada makanan yang bisa tuan
berikan kepadaku?”Jawabku:”Apa kau tidak merasa bahwa aku sangat
mencintaimu?. Aku tidak akan memberi makanan kecuali kau bersedia
menyerahkan dirimu padaku”.
Sesungguhnya
aku takut menghadapi bahaya dalam kematian. Aku telah berjanji untuk
tidak berma’syiat kepada Allah”. Lalu Ia kembali. Dua hari kemudian Ia
datang lagi. Ia meminta makanan seperti yang dikatakan tempo hari. Aku
juga memberi jawaban seperti jawabanku yang kemarin. Saat itu tubuhnya
kelihatan sangat kusut dan rusak. Ia masuk dan duduk didalam rumah. Aku
menyodorkan makanan didepannya. Tiba-tiba airmata perempuan cantik itu
terus mengalir deras seraya berkata:”Apakah makanan ini Kau berikan
semata hanya karena Allah?” Aku menjawab:”Aku berikan makanan itu agar
kau bersedia menyerahkan dirimu kepadaku”. Ia bangkit dan meninggalkan
makanan itu tanpa menjamahnya sedikitpun. Ia terus melangkah keluar
rumah menuju rumahnya sendiri, yang berada tak jauh dari rumahku.
Dua
hari kemudian ia datang lagi. Ia mengetuk pintu sambil berdiri didepan
pintu, Kulihat tubuhnya kian kurus kering. Suaranya terbata-bata.
Punggunbgnya membungkuk karena menahan lapar. Ia berkata :”Tuan aku
telah merasa kesulitan, untuk mencari makanan, dan aku tak sanggup lagi
untuk berjalan jauh untuk mencari makanan kecuali kepada tuan. Apakah
tuan punya makanan yang bisa diberikan kepadaku ikhlas karena Allah?”
Ya
tentu ada kalau kamu bersedia menyerahkan dirimu kepadaku”. Ia
kemudian menundukkan wajah beberapa saat, ia masuk dan duduk didalam.
Saat itu aku benar benar tidak mempunyai makanan yang dapat kuberikan
untuknya. Maka aku segera menghidupkan api untuk memasak makanan
untuknya.
Setelah
masak dan makanan kuletakkan didepannya tiba-tiba aku tersadar
memperoleh petunjuk Allah. Dalam hati aku berkata:”Hai rusak amat diriku
ini, sesungguhnya perempuan ini termasuk orang yang di beri akal
sedikit dan begitu pula ketaatannya pada agamanya. Ia tidak mampu
mencari mana dan sudah berulang kali merasakan betapa pedihnya
kelaparan. Tetapi kamu tidak mau menahan kemaksiatan, padahal ia dapat
mencegah kemaksiatan tanpa mau menyentuh makanan, jika diberikan dengan
syarat”. Kemudian aku berdoa kepada Allah : ”Wahai Allah sesungguhnya
aku sekarang bertaubat kepada-MU atas segala perbuatanku. Aku berjanji
tidak akanmendekati lagi kepada perempuan itu untuk bermaksiat”. Aku
dekati dia yang masih terpaku didepan makanan. Aku berkata:Sekarang
makanlah, Kamu tidak perlu khawatir bahwa aku akan meminta
persyaratanitu. Kuberikan itu hanya karena Allah”.
Begitu
mendengar ucapanku itu, ia mengangkat wajahnya kelangit seraya
berucap:”Wahai Allah, jika ucapannya itu benar, hindarkanlah dirinya
dari api dunia dan api akhirat”. Lalu perempuan cantik itu ku biarkan
menyantap makanan. Aku sendiri berkemas dari hadapannya untuk memadamkan
api. Tanpa sengaja sebuah bara api jatuh mengenai kakiku. Ternyata
tidak melepuh. Aku kembali lagi menjumpainya dengan penuh kegembiraan.
Aku berkata:”Bergembiralah kamu, sesungguhnya Allah telah mengabulkan
doamu”.
Lalu
Ia buang sesuap makanan yang masih ada di tangannya. Ia bersujud
syukur seraya berucap : ”Wahai Allah sesungguhnya Engkau telah
memperlihatkan kepadaku apa yang kuhendaki terhadap lelaki ini. Maka
cabutlah ruhku sekarang juga”. Selesai berucap begitu, perempuan cantik
itu mati dalam keadaan masih bersujud. Demikianlah ceritaku, saudara”.
Wallaahu a’lam
BAB 25
K I S A H
Ada
seseorang perempuan keluar rumah dengan tujuan untuk memperoleh
pelajaran islam dari Nabi S.A.W bersama para sahabat lain. Di
pertengahan ada seorang lelaki yang masih muda melihatnya, Ia
bertanya:”Hai perempuan yang mulia, hendak kemana kamu?”. Ia
menjawab:”Aku hendak menghadap Rasulullah S.A.W untuk mendapatkan
pengajaran dari beliau”. Balas pemuda :”Apakah dirimu cinta benar
terhadap nabi S.A.W?”. Ia menjawab:”Ya, Aku sangat mencintainya”. ”Kalau
kamu benar-benar cinta kepada Rasulullah aku minta supaya engkau
membuka cadarmu, agar aku bisa melihat wajahmu”. Manakala anak muda itu
bersumpah-sumpah demi kecintaan perempuan itu kepada Rasulullah S.A.W,
maka perempuan itu tadi membuka cadarnya, Anak muda itu dapat melihat
dengan jelas wajahnya. Setelah kembali dari pelajaran agama, perempuan
itu tadi memberi tahu pada suaminya tentang peristiwa yang di alaminya
bersama seorang pemuda, ketika suaminya mendengar penuturan cerita
istrinya maka hatinya bimbang:”Hal itu perlu di uji kebenarannya. Agar
aku puas dan jelas persoalannya”.
Lalu
suami perempuan itu membuat perapian yang sangat besar dimasukkan
kedalam tungku. Tungku itu biasanya di gunakan untuk memasak roti, yang
menyerupai sebuah kentongan. Suami perempuan itu menunggu beberapa saat
agar api membesar. Ketika jilatan api telah membesar maka suaminya
berkata:”Demi Kebenaran Rasulullah S.A.W, masuklah kamu kedalam tungku
itu!”.
Begitu
istrinya mendengar suaminya bersumpahyang meminta dirinya agar masuk
kedalam tungku yang membara, tanpa ragu ia masuk kedalamnya. Ia tidak
memperdulikan lagi nyawanya demi kecintaannya kepada Rasulullah S.A.W.
Manakala
suami perempuan itu melihat isterinya benar benar masuk kedalam tungku
dan lenyap di selimuti jilatan api, timbullah penyesalan di dalam
hatinya. ia menyadari behwa apa yang di katakan itu benar, maka suami
perempuan itu tadi menghadap Rasulullah S.A.W. Ia menceritakan kejadian
yang berlangsung. Nabi S.A.W bersabda:”kembalilah. Bongkarlah tungku
itu”. Ia segera kembali dan membongkar tungku itu yang masih padas,
ternyata di balik tungku itu ia menemukan istriny a dalamkeadaan selamat
tanpa kurang suatu apapun. Hanya sekujur tubuhnya basah oleh
keringatnya sendiri, bagaikan orang yang sedang mandi air panas.
Wahai
Allah, Jadikanlah kebaikan kepada kami, keluarga kami, anak cucu kami
dan segenap kaum muslimin. Segala puji bagi-Mu ya Allah, Tuhan semesta
Alam. Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah menyempurnakan berbagai
kebaikkan dengan nikmat-Nya, dan dengan anugerah-Nya kita berbahagia
memperoleh syorga.
Shalawat
dan salam selalu terlimpahkan kepada junjungan Kita Nabi Muhammad
S.A.W, dan semoga terlimpahkan pula kapada keluarga, sahabat, dan
istri-istrinya selama masih ada langit dan bumi. Segala puji bagi Allah
sendiri-Nya. Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan daya dan
kekuatan Allah Yang Maha Tinggi lagi Besar. Cukuplah Allah menjadi
penolong kita dan memberi kenikmatan kepada kita……Amiin
PENGANTAR PERKAWINAN
Tema
pernikahan atau membentuk rumah tangga islami adalah masalah yang
selalu hangat dibicarakan dan bahkan harus dibicarakan! Tentunya jangan
hanya dibicarakan dan difikirkan tapi di laksanakan .... InsyaAllah.
Dalam
Islam pernikahan itu mempunyai nilai yang sangat suci, agung dan
sakral. Ijab kabul sebagai transaksi pernikahan merupakan ucapan yang
ringan dilafalkan tapi berat sekali tanggung jawabnya. Allah sendiri
menyebut ijab kabul itu sebagai ikatan yang kuat/kokoh (Mitsaqon
Gholizho).
"Bagaimana
kamu akan mengambilnya kembali, padahal sebagian kamu telah bergaul
(bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. Dan mereka
(isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu perjanjian yang kuat." (QS.
4:21).
Dalam
AlQur an Allah hanya dua kali menggunakan istilah perjanjian yang kuat
ini, pertama untuk pernikahan dan kedua untuk perjanjian dengan bani
Israil (di masa Nabi Musa As): "Dan telah kami angkat ke atas (kepala)
mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang telah Kami ambil
dari) mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka: "Masukilah pintu
gerbang itu sambil bersujud", dan Kami perintahkan (pula) kepada mereka:
"Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu", dan Kami
telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh." (QS. 4:154).
Setelah Ijab Kabul terucapkan, maka konsekwensinya:
1.
Halal lah apa yang tadinya haram. Jangankan berpegang-pegangan, saling
pandang-pandangan saja sebelum menikah antara 2 jenis kelamin dilarang
oleh Islam. Tapi setelah ijab kabul, maka lenyaplah tabir tsb.
"Isteri-isterimu
adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah
tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan
kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertaqwalah kepada Allah
dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar
gembira orang-orang yang beriman." (QS. 2:223)
2.
Terjadilah pemindahan tanggung jawab seorang wanita dari orang
tua/wali ke suaminya. Sebelum menikah segala tanggung jawab seorang
anak terletak di pundak Ayahnya, setelah menikah maka kewajiban tsb
berpindah ke suami.
Suami
harus memenuhi segala kebutuhan lahir bathin istri. Suami yang akan di
minta pertanggung jawabannya di akhirat kelak bagaimana ia mendidik
istri dan anak-anaknya. Seperti Hadist yang diriwayatkan oleh Hakim:
Manusia yang paling besar tanggung jawabnya kepada wanita ialah
suaminya.
3.
Keihlasan seorang wanita dipimpin oleh suami dan taat pada suami.
"Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah
telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang
lain(wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebahagian
dari harta mereka. Sebab itu maka Wanita yang saleh, ialah yang ta'at
kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh
karena Allah telah memelihara (mereka). Wanita-wanita yang kamu
khawatirkan nusyuznya, maka nasehatilah mereka dan pukullah mereka.
Kemudian jika mereka menta'atimu, maka janganlah kamu mencari-cari
jalan untuk menyusahkannya. Sesungguhnya Allah Maha Tinggi lagi Maha
Besar." [QS An-Nisa' 4:34]
Dari
Abu Hurairah ra, dari Nabi S.A.W beliau bersabda, seandainya aku boleh
menyuruh orang untuk bersujud kepada seseorang, niscaya aku menyuruh
seorang istri bersujud kepada suaminya. (HR Turmudzi). Dari Ummu Salamah
ra. Berkata, Roaulullah bersabda: setiap istri yang meninggal dunia
sedangkan suaminya meredhoinya, niscaya ia masuk surga (HR Turmudzi)
Pernikahan
dalam rangka membentuk rumah tangga yang islami merupakan basis
penting dalam perjalanan pembangunan ummat. Rumah tanga merupakan
organisasi terkecil yang bisa menjadi gambaran mikrokondisi sebuah
masyarakat.Ia juga merupakan pijakan kedua setelah pembinaan individu
muslim, dan wadah praktis untuk pengamalan-pengalaman syariat Islam
secara berkelompok dan terorganisasi.
Fungsi-fungsi
dalam rumah tangga yang teratur dan terstruktur rapi disertai semangat
amanah dan tanggung jawab masing-masing anggotanya akan menciptakan
kondisi yang tentram dan di ridhai Allah S.W.T. Jika suami sebagai
qawwam (pemimpin) dan istri sebagai ribatul bait (pengatur ) rumah
tangga menyadari amanat tsb akan dipertanggung jawabkan di akhirat, maka
kecermelangan rumah tangga yang samara (sakinah, mawaddah, rahmah)
menjadi niscaya adanya..
"Dan
di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa
tenteram (sakinah) kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih
(mawaddah) dan sayang (rahmah). Sesungguhnya pada yang demikian itu
benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir." (QS. 30:21)
Mawaddah
dalam ayat diatas lebih berkonotasi ke fisik, tidak hanya masalah
kecantikan istri, ketampanan suami, kemolekan tubuh, tapi juga
menyangkut tingkat sosial, ekonomi, pendidikan dan peradaban. Karena
Islam juga memandang faktor ke-sekufu-an (selevel) merupakan salah satu
faktor kebahagiaan rumah tangga.
Semakin
jauh perbedaan latar belakang kesekufuan ini akan sering terjadi
culture schok yang dapat menimbulkan perselisihan/percekcokan. Tapi
bukan berarti Islam melarang pernikahan antar si kaya dengan si miskin.
Dalam sejarah sahabat, hal ini terjadi pada kasus pernikahan sahabiyah
Zainab dengan Zaid yang Allah abadikan di dalam surat Al Ahzab (33)
ayat 37.
"Dan
(ingatlah), ketika kamu berkata kepada orang yang Allah telah
melimpahkan nikmat kepadanya dan kamu (juga) telah memberi nikmat
kepadanya:"Tahanlah terus isterimu dan bertaqwalah kepada Allah", sedang
kamu menyembunyikan di dalam hatimu apa yang Allah akan menyatakannya,
dan kamu takut kepada manusia, sedang Allah-lah yang lebih berhak
untuk kamu takuti. Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan
terhadap isterinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia
supaya tidak ada keberatan bagi orang mu'min untuk (mengawini)
isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak Angkat itu
telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. Dan adalah
ketetapan Allah itu pasti terjadi." [QS Al-Ahzab 33:37].
Sedangkan
Rahmah pada surat Ar Rum 21 diatas, adalah faktor kasih sayang yang
bersifat batiniyah, menyangkut kepahaman terhadap Dien (agama),
keimanan, akhlak, selera dan ideologi. Dan faktor-faktor ini sangat
penting. Pilihlah yang utama berdasarkan Diennya. Seperti hadist yang
telah ita sering dengar: Wanita itu dinikahi karena 4 perkara: karena
hartanya, keturunannya, kecantikannya dan Dien nya. Maka dapatkan lah
wanita yang memiliki Dien (H.R Bukhari).
Bagaimana
kita "menilai" calon pasangan agar bisa diketahui apakah pas secara
mawaddah dan cocok secara rahmah? .... ini yang penting yak ... :) Saat
ini masih banyak muslim melakukan taaruf (perkenalan) dalam rangka
penilaian calon pasangannya itu dengan cara budaya yang non-Islami:
BERPACARAN.
Mungkin dengan pacaran akan diperoleh data-data yang diperlukan, tapi
karena ini bukan dari Islam, maka harus dihindari, dan biasanya dalam
masa berpacaran tsb, yang ditampilkan oleh masing-masing adalah sifat ya
ng baik-baiknya saja. Banyak kejadian (apalagi di Jerman) dua orang
yang telah bertahun-tahun berpacaran, tapi setelah menikah beberapa saat
kemudian bercerai dengan alasan tidak cocok.. Jadi bagaimana yang
islami? ...... hmmmmm ..... ;)
Allah
telah memberikan solusinya, dalam surat Annur ayat 32 "Dan nikahkanlah
orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang patut
(menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin
Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. Dan Allah Maha luas
(pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui." (QS. 24:32).
Ayat
ini dikhususkan oleh orang-orang yang telah menikah. Nikahkanlah
.....berarti disini Allah sedang berbicara kepada orang-orang yang telah
menikah.
Dan
mereka ini merupakan mediator untuk menciptakan media taaruf yang
islami. Di masa tempo doeloe, antar orang tua telah saling menpersiapkan
diri untuk saling menjodohkan anak-anaknya. Pada jaman sekarang cara
tsb akan dianggap kolot, feodal dan menghalangi kebebasan. Sebenarnya
ketidak cocokan ini karena adanya kesenjangan pemahaman, bila pihak
orang tua maupun anak ada keterbukaan, dan anak didik oleh orang tua
dengan nilai-nilai Islam sejak awal, maka anak akan percaya penuh
terhadap pilihan orang tua. Selain orang tua, guru ngaji atau teman yang
dapat dipercaya yang berakhlak baik dan sudah menikah dapat sebagai
mediator.
Walaupun
begitu Allah telah membuat katub pengaman sebagai tolok ukurnya
"Wanita-wanita yang tidak baik adalah untuk laki-laki yang tidak baik,
an laki-laki yang tidak baik adalah buat wanita-wanita yang tidak baik
(pula), dan wanita-wanita yang baik adalah untuk laki-laki yang baik dan
laki-laki yang baik adalah untuk wanita-wanita yang baik (pula).
Mereka (yang di tuduh) itu bersih dari apa yang dituduhkan oleh mereka.
Bagi mereka ampunan dan rezki yang mulia (yaitu surga)." (QS. 24:26)
Dalam
ayat diatas Allah telah memilihkan wanita-wanita yang baik untuk
lakilaki yang baik, oleh sebab itu bagi yang ingin cepat menikah, maka
harus meningkatkan terus nilai keimanannya agar mendapatkan sesuai
dengan kualitas dirinya. Itu janji Allah. Sekian dulu dari salah, kalau
ada salah kata saya mohon ampun kepada Allah dan minta maaf pada rekan
semua.
RUMAH TANGGA ISLAMI
Pada
tazkiroh pekan lalu telah disampaikan pengantar mengenai pernikahan
ditinjau oleh sudut pandang Islam. Sebelum kita meminta "mediator" untuk
mencarikan pasangan hidup kita, cobalah kita renungkan pertanyaan
berikut: Rumah tangga macam apa yang akan kita bangun? Di bawah ini ada
beberapa contoh rumah tangga yang ada di sekitar kita (bias ditambahkan
lagi dan silakan dipilih mana yang cocok) :
1. RUMAH TANGGA BISNIS
Pada
awal dibinanya rumah tangga ini telah dihitung-hitung berapa
keuntungan materi yang akan diperoleh, bila aku menikah dengan si
fulan, berapa tabunganku akan bertambah saat menikah dan setelah
menikah. Apa pasanganku nanti dapat menambah hartaku atau malah akan
mengurangi. Dan bila kami nanti punya anak, berapa anak yang kira-kira
dapat menguntungkan usaha yang kami jalankan saat ini dst. Rumah tangga
seperti ini banyak sekali ditemukan di negara Barat yang hanya
berfikir pada materi. Allah telah berfirman:
"Dan
sekali-kali bukanlah harta dan bukan (pula) anak-anak kamu yang
mendekatkan kamu kepada Kami sedikitpun; tetapi orang-orang yang beriman
dan mengerjakan amal-amal saleh, merekalah itu yang memperoleh balasan
yang berlipat ganda disebabkan apa yang telah mereka kerjakan; dan
mereka aman sentosa di tempat-tempat yang tinggi (dalam surga)." (QS.
34:37)
2. RUMAH TANGA "BARAK"
Yang
terdengar dari rumah tangga ini hanya perintah-perintah atau
komando-komando layaknya jendral kepada kopralnya. Bila si kopral tidak
melaksanakan atau lalai menjalankan tugas, maka konsekwensinya adalah
hukuman, baik berupa umpatan atau bahkan pukulan. Di sini tidak ada
suasana dialogis yang mesra, anggota keluarga yang berperan sbg kopral,
selalu merasa tertekan dan takut bila ada sang jendral di rumah, dan
selalu berdoa dan berharap agar sang jendral segera berlalu keluar
rumah.
.3. RUMAH TANGGA "ARENA TINJU"
Bila
suami dan istri merasa memiliki derajat, kekuatan dan posisi yang
setara serta pendapatnya lah yang benar dan harus terlaksana. Bila ada
perbedaan dan salah faham sedikit saja, maka digelarlah "pertandingan"
yang dapat berupa, baku cekcok, baku hantam atau baku UFO (piring
terbang). Masing-masing berusaha membuat KO lawannya dengan berbagai
taktik. Tidak ada kata damai sebelum salah satunya menyerah.
4. RUMAH TANGGA ISLAMI
Didalamnya
ditegakkan adab-adab Islam, baik individu maupun seluruh anggota.
Mereka berkumpul dan mencintai karena Allah, saling menasehati kejalan
yang maruf dan mencegah dari kemunkaran. Setiap anggota betah tinggal
didalamnya karena kesejukan iman dan kekayaan ruhani. Rumah tangga yang
menjadi panutan dan dambaan ummat yang didalamnya selalu ditemukan
suasana sakinah, mawaddah dan rahmah. Merupakan surga dunia, seperti
yang sering kita dengar, Rasul pernah bersabda : Baiti jannati! Rumahku
adalah surgaku. Rumah yang dimaksud di sini tentunya bukan bangunan
fisiknya yang bak istana dengan taman yang luas dan kolam renangnya,
tapi rumah disini adalah rumah tangga "ruh" dari rumah tsb.
Apa ciri-ciri rumah tangga islami tsb :
a. DIDIRIKAN ATAS DASAR IBADAH
Rumah
tangga didirikan dalam rangka ibadah kepada Allah, dari proses
pemilihan jodoh, pernikahan (akad nikah, walimah) sampai membina rumah
tangga jauh dari unsur kemaksiatan atau yang tidak islami. Sebagaimana
tugas kita di muka bumi ini yang hanya untuk mengabdi/beribadah kepada
Allah, maka pernikahan ini pun harus diniatkan dalam rangka tsb.
Beberapa contoh yang tidak islami, pemilihan jodoh tidak berdasarkan
Diennya (agamanya), Proses berpacaran, pemilihan hari "baik" untuk acara
pernikahan, sebelum akad nikah ada acara widodareni atau mandi air
kembang dan dalam acara walimahan ada upacara (adat) injak telur dan
buang-buang beras (S.A.Weran).
b. TERJADI INTERNALISASI NILAI ISLAM SECARA KAFFAH (MENYELURUH)
Dalam
rumah tangga islami segala adab-adab islam dipelajari dan dipraktekan
sebagai filter bagi penyakit moral di era globalisasi ini. Suami
bertanggung jawab terhadap perkembangan pengetahuan keislaman dari
istri, dan bersama-sama menyusun program bagi pendidikan anakanaknya.
Saling tolong-menolong dan saling mengingatkan untuk meningkatkan
kefahaman dan praktek ibadah. Oleh sebab itu suami dan istri seharusnya
memiliki pengetahuan yang cukup memadai tentang Islam.
c. TERDAPAT QUDWAH (KETELADANAN) QUDWAH (KETELADANAN) SUAMI ATAU ISTRI YANG DAPAT DICONTOH OLEH ANAK-ANAK
Setiap
hendak keluar atau masuk rumah anggota keluarga membiasakan
mengucapkan salam dan mencium tangan, merupakan contoh yang akan
membekas pada anak-anak sehingga mereka tidak canggung mengucapkan
salam ketika telah dewasa. Bagaimana mungkin anak akan menegakkan
sholat diawal waktu, sementara orang tuanya asik melihat TV pada saat
azan berkumandang (ini contoh yang buruk).
Keluarga
islami merupakan contoh teladan di lingkungannya, selalu nilainilai
positif saja yang terlontar dari para tetangganya bila membicarakan
rumah tangga ini. Hal ini bisa terjadi bila adanya contoh-contoh yang
islami dilakukan serta silaturahmi ke tetangga yang intensif.
d. ADANYA PEMBAGIAN TUGAS YANG SESUAI DENGAN SYARIAT
Islam
memberikan hak dan kewajiban masing-masing bagi anggota keluarga
secara tepat dan manusiawi. Seperti yang tercantumkan dalam Firman
Allah:
"Dan
janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada
sebagian kamu lebih banyak dari sebagian yang lain. (Karena) bagi orang
laki-laki ada bahagian daripada apa yang mereka usahakan, dan bagi para
wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah
kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu." (QS. 4:32).
Suami
atau istri harus faham apa kewajiban dan haq nya, sehingga tidak
terjadi pertengkaran karena masing-masing hanya menuntut haknya
terpenuhi tanpa melakukan kewajibannya. Islam telah mengatur
keseimbangan haq dan kewajiban ini, apa yang menjadi kewajiban suami
adalah haq istri, dan begitu pula sebaliknya. Kewajiban suami tidak bias
dilakukan secara optimal oleh istri, begitu pula sebaliknya.
e. TERCUKUPNYA KEBUTUHAN MATERI SECARA WAJAR
Suami
harus membiayai kelangsungan kebutuhan materi keluarganya, karena itu
salah satu tugas utamanya. Seperti yang tercantum dalam Al Quran surat
Al Baqarah 233:...... Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian
kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf.
f. MENGHINDARI HAL-HAL YANG TIDAK ISLAMI
Banyak
kegiatan atau barang-barang yang tidak islami harus disingkirkan dari
dalam rumah, misalnya penghormatan kepada benda-benda keramat, memajang
patung-patung, memasukkan ke rumah majalah/koran/Video atau saluran
internet dan TV (ini yang susah) yang tidak islami, bergambar mesum dan
adegan kekerasan, memperdengarkan lagu-lagu yang tidak menambah
keimanan.
G. BERPERAN DALAM PEMBINAAN MASYARAKAT
Keluarga
islami harus memberikan kontribusi yang cukup bagi perbaikan
masyarakat sekitarnya :"Serulah (manusia) kepada jalan Rabbmu dengan
hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang
lebih baik.Sesungguhnya Rabbmu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang
siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui
orang-orangyang mendapat petunjuk." (QS. 16:125)
Kita
tidak bisa hidup sendirian terpisah dari masyarakat. Betapapun taatnya
keluarga tersebut terhadap norma-norma ilahiyah, apabila sekitar
lingkungannya tidak mendukung, pelarutan nilai akan lebih mudah terjadi,
terutama pada anak-anak.
Oleh
sebab itu setiap anggota keluarga islami diharuskan memiliki semangat
berdawah yang tinggi, sesuai dengan profesi utama setiap muslim adalah
dai. Suami harus dapat mengatur waktu yang seimbangan untuk Allah S.W.T
(ibadah ritual), untuk Keluarga (mendidik keluarga serta bercengkrama
bersama istri dan anak-anak), waktu untuk ummat (mengisi ceramah,
mendatangi pengajian, menjadi pengurus mesjid, panitia kegiatan
keislaman) dan waktu mencari nafkah. Begitu pula dengan istri harus
diberi kesempatan untuk bekiprah di jalan dawah ini memperbaiki muslimah
disekitarnya.
Bila
pemahaman keislaman antara suami dan istri sekufu, maka tenaga untuk
melakukan manuver dawah keluar akan lebih banyak, karena suami tidak
perlu menyediakan waktu yang terlalu banyak untuk mengajari istrinya.
Begitu pula istri mendukung dan memperlancar tugas suami dengan ikhlas.
"Dan
orang-orang yang berkata: "Ya Rabb kami, anugerahkanlah kepada kami
isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa." (QS. 25:74)
Kita dapat membaca sebagai referensi rumah tangga islami yang telah dicontohkan oleh Rosul S.A.W dan para sahabatnya.